Bulog Wacanakan Ekspor Beras, Guru Besar IPB Nilai Merugikan Rakyat
KANALSUMATERA.com - Direktur Utama Bulog Budi Waseso sempat mengeluarkan wacana untuk melakukan ekspor komoditas beras nasional ke sejumlah negara. Langkah tersebut adalah upaya Bulog agar tidak kesulitan melakukan pengadaan beras di dalam negeri.
Rencana ekspor tersebut bisa dilakukan dengan catatan produksi beras dalam negeri sudah dipenuhi saat panen raya yang terjadi pada Februari sampai April 2019 atau maksimal sebesar 1,8 juta ton penyerapan beras petani.
Menanggapi hal itu, seperti yang dilansir dari Republika.co.id, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas mengatakan keinginan Bulog mengekspor beras dianggap sekadar cita-cita yang mulia yang tak logis. Sebab, banyak hal perlu dibenahi guna capai hal itu.
Apalagi, harga beras dalam negeri saat ini jauh lebih mahal dibandingkan rata-rata harga beras dunia. Jika dipaksakan diekspor, beras Indonesia tidak akan mampu bersaing.
Baca: Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
“Boleh saja ekspor, tapi rugi. Nanti biar kerugiannya ditanggung rakyat,” kata Andreas dalam keterangannya dikutip Senin 28 Januari 2019.
Ia menjelaskan, saat ini harga beras Indonesia di tingkat petani mencapai Rp10 ribuan per kilogram, dikarenakan harga gabah kering sudah menyentuh Rp5 ribu per kilogram ke atas.
Sementara itu, harga beras dunia per tonnya di angka US$404 yang kalau dirupiahkan berada di kisaran Rp5.600-an per kilogram.
“Kalaupun nanti musim panen raya, saya prediksi harga beras di tingkat petani sekitar Rp8.000-an. Masih lebih tinggi,” ujarnya. Kso
