Jamaah Aboge Puasa Pada Rabu, Beda Dengan Pemerintah, Begini Cara Perhitungannya
KANALSUMATERA.com - Purbalingga - Jamaah Alif Rebo Wage (Aboge) Desa Onje Kecamatan Mrebet Purbalingga, baru melaksanakan puasa Ramadhan 1442 hijriah pada Rabu (14/04/2021), hari ini. Mereka memulai puasa selisih sehari dengan yang ditetapkan pemerintah, yakni Selasa (13/04/2021).
Pimpinan jamaah Aboge, Kyai Maksudi, sebagaimana dikutip dari Serayunews.com, mengatakan penentuan Ramadan didasarkan atas perhitungan yang diyakini secara turun temurun. Menurut perhitungannya, puasa Ramadan tahun ini jatuh pada Rabu Kliwon.
“Perhitungannya rumit, tapi kami anggap ini sebagai perhitungan pasti,” kata Kyai Maksudi pada Selasa (12/4/2021) siang.
Disampaikannya, dalam fiqih agama yang biasa digunakan sebagai penentuan Ramadan itu ada empat cara penentuan awal Ramadhan, yang salah satunya adalah hisab yakni perhitungan dan pihaknya menggunakan itu.
Baca: Anggota DPR Hendry Munief Minta Pemerintah Tangkap Peluang Pelemahan Ekonomi Singapura
Diketahui, perhitungan yang digunakan Jemaah Islam Aboge dipercaya sudah digunakan para wali sejak abad 14 yang lalu. Ajaran ini sendiri disebarkan Raden Rasid Sayid Kuning dari Pajang. Jemaah Islam Aboge mempercayai perhitungan dalam satu windu terdiri dari tahun Alif, Ha, Jim Awal Za, Dal Ba/be, Wawu dan Jim akhir.
Selain itu, dalam satu tahun terdiri dari 12 bulan dan satu bulan terdiri atas 29-30 hari dengan Pasaran Jawa. Pasaran Jawa sendiri terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi) dan Pahing. Untuk hari pasaran pertama di tahun Alif, jatuh pada Rabu Wage, tahun Ha pada Ahad/Minggu Pon (Hakadpon).
Kepala Desa Onje, Mugi Ari Purwono diminta keterangan secara terpisah mengaku tidak ada gesekan paham maupun terganggu dengan yang diamalkan Aboge. Pelaksanaan puasa di wilayahnya tetap lancar. Jamaah Aboge dan masyarakat pada umumnya tidak pernah mempermasalahkan tentang perbedaan Ramadan dan Idul Fitri yang waktunya sedikit berbeda.
“Penganut ajaran Aboge diketahui paling banyak di Dusun Bak Desa Onje. Kami tidak pernah mempermasalahkan tentang perbedaan ini. Justru kami anggap hal ini sebagai sebuah keunikan,” terang Mugi Ari. ***
