Takdir Ditulis di Buih Subayang
HUJAN yang turun sejak subuh, tidak menyurutkan niat kami memacu sampan pancung bermesin robin jelang zhuhur ini. Kami bersemangat membelah aliran Sungai Subayang yang deras dengan tebing batu cadas.
Ini adalah perjalanan basah. Dari Gunung Sahilan ke Pelabuhan Gema hingga berlayar ke Muara Bio, tak sedikitpun hujan reda. Jeda sejenak untuk shalat Zhuhur di Muara Bio; tempat sumpah sati Rantau Kampar Kiri dilaungkan, hujan pun masih gerimis membasahi hutan tropis Bukit Rimbang Baling ini.
Namun perjalanan harus diteruskan. Karena di hulu Batang Bio, sebutan lain Sungai Subayang sebelah kanan, ada ratusan masyarakat yang menunggu. Ada panji-panji partai yang harus dikibarkan. Ada harapan yang akan diantarkan.
Kami tahu, masyarakat di Kamparkiri Hulu, terutama di hulu Subayang dan Batang Bio ini adalah komunitas yang masih terisolasi. Ada puluhan desa yang belum pernah dilindas ban mobil. Ada puluhan ribu orang yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sinyal handphone baru ada kalau mau "memanjat langit'.
Baca: Hutama Karya Segera Konstruksi Tol Jambi–Rengat, Hubungkan Utara dan Selatan Pulau Sumatera
Harga karet yang jatuh tapai membuat mereka harus menjadi buruh balak liar. Kebun karet mereka yang tumbuh di antara batu cadas, meranggas di tebing bukit, tak lagi bisa diharapkan sebagai sumber penghidupan.
Sejatinya perjalanan ini sangat menyenangkan. Sebuah petualangan dengan pemandangan alam yang.memanjakan. Ada ribuan hektare hutan hujan tropis menghijaukan kerak bukit. Ada belasan air terjun yang berjuntai. Ada batu cadas dan ikan air deras yang melompat-lompat.
Tapi hanya keindahan alam ini yang dipunyai warga Kampar Kiri Hulu. Sementara 'kemerdekaan' masih jauh dari harapan. Tak banyak pejabat dan calon pejabat yang kesini. Maklum, mereka hanya komunitas-komunitas kecil, yang per desa kadang hanya ada sejumput suara. Ada desa yang pemilihnya hanya 96 orang. Siapa pula pejabat yang mau bersusah-susah?
Tapi kami dari Partai Keadilan Sejahtera bukan memandang kepada angka. Satu suara pun, sebuah rumah pun, selagi itu adalah Indonesia maka dia adalah saudara kita. Mereka wajib diselamatkan. Wajib diwakili. Wajib disuarakan.
Baca: Di Hadapan Perwakilan 150 Negara, Dr. Syahrul Aidi Kecam Keras Tindakan Israel di Timur Tengah
Saya ke hulu Batang Bio didampingi Buya Ramli, koordinator pemenangan PKS di Rantau Kampar Kiri. Ada juga Yul Suriani, caleg perempuan yang memiliki banyak keluarga di hulu sungai ini.
Tapi, rasanya saya dan Buya Ramli masih kalah dari Yul Suriani. Mamah muda satu anak ini sudah basah ketika membelah jalan lintas Pekanbaru- Lipat Kain hingga ke pelabuhan Gema. Kembali basah saat membelah Sungai Subayang. Dia harus tinggalkan anaknya yang masih menyusu. Dia harus ikut menapak batu cadas, memanjat tebing, dan tentu saja mengadang segala risiko perjalanan.
Kami caleg PKS. Kami tidak lebih penting dibanding masyarakat yang perlu disuarakan.
Oleh SAIDUL TOMBANG
Caleg DPRD Provinsi Riau
Partai Keadilan Sejahtera
Nomor Urut 5
Dapil Kabupaten Kampar
