NKRI yang Sekarat

Alwira Fanzary
Senin, 14 Januari 2019 19:21:20
Alwira Fanzary Indragiri

Radikal yang terkonsolidasi. Terpancing awalnya tuk menulis khusus tentang ini. Apatah lagi di sebut-sebut nama Riau. Tapi setelah dipikir, ya sudahlah, ini hanya isu receh yang tidak kreatif diumbam secara berkala. Mungkin dengan cara itu dia cari makan di Istana. Dan yang dikasih tau, saya rasa juga tak paham-paham nian apa yang disampaikan. Intinya, dimaklumi saja.

Awal tahun, refleksi akan eksistensi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) saya rasa menarik tuk sedikit diulas. Atau lebih tepatnya pada kata Kesatuan. Bentuk pemerintah Kesatuan yang dipilih awal-awal kemerdekaan tidak ada salahnya untuk di refleksi. Jika bicara refleksi, artinya ada keputusan final yang dikoreksi. Itu boleh dan sah-sah saja. Sebab tidak ada yang final dari hasil pemikiran manusia.

Implikasi dari bentuk pemerintah Kesatuan jelas pada kewenangan pemerintahan pusat terhadap pemerintahan daerah. Bisajadi daerah akan diperlakukan seperti wilayah kolonial. Dan itu sudah terbaca jauh-jauh hari oleh Bung Hatta. Sang Proklamator dari tanah Sumatera ini meyakini bentuk negara Serikat lah yang paling tepat untuk sebuah negara besar yang baru lahir. Bung Karno berselisih dengan pemikiran ini.

Soekarno menerjemahkan Kesatuan itu kehendak Jakarta. Sehingga semangat pemerataan pembangunan yang diperjuangkan PRRI dijawab sebagai bentuk merongrong negara. Begitu juga dengan Soeharto. Kesatuan itu diterjemahkannya kepala pemerintahan di daerah harus orang dari pulau Jawa. Heboh lah kemudian seantero negeri saat mencuatnya perlawanan Suko tak Suko Harus Suko dalam pemilihan gubernur Riau. Tiga dekade lalu.

Baca: Danantara Pangkas 874 Perusahaan BUMN, Tinggal 200 hingga Akhir 2026

Lalu bagaimana dalam keadaan tronjal-tronjol saat ini Indonesia menerjemahkan Kesatuan? Mungkin masa yang paling memilukan. Jangankan untuk menagih panjang lebar tentang konsep Kesatuan, dimana letak Blok Rokan yang sudah puluhan tahun memberikan minyak bumi terbaik dan terbanyak bagi negara ini saja pemimpinnya baru tahu beberapa pekan terakhir. Akan berat dia menerjemahkannya. Tapi ya sudah lah, maklumi saja. Sudah nasib negeri. Jangan lagi dia dibebani.


Namun yang pasti, mental feodal masih bersarang. Bisa jadi tambah akut. Contoh: Anggaran yang diberikan Jakarta ke daerah itu disebut sebagai Bantuan Pemerintah Pusat, Kucuran Dana Pusat dan penamaan-penamaan sejenis. Lah, memangnya kami daerah ini miskin? terutama Riau.


Kekayaan daerah lah yang diangkut tanpa henti ke Pusat. Lalu ketika dikembalikan ampasnya ke daerah malah disebut sebagai Bantuan Pemerintahan Pusat. Sakit hati saya mendengar kata-kata yang ditebalkan itu. Serta jelas sungsang logika seperti ini. Dan ampas itu pun kepala daerah harus mengemis-ngemis tuk bisa dapatkannya. Nasib badan.

Kekeliruan, atau kesengajaan salah menerjemahkan bentuk pemerintahan Kesatuan ini lah kemudian direspon daerah beberapa puluh tahun terakhir dalam bentuk perlawanan. Baik itu di wilayah paling Barat atau paling Timur. Juga Riau. Yang dulu dipelopori seorang dokter itu.

Baca: Menteri LH Dorong Istilah Pemulung Diubah Jadi Pekerja Pemilah Sampah

Jangan dikira hanya angin lalu. Setiap ditekan, atau tertekan, niscaya pantulannya juga akan kuat. Akui saja bentuk pemerintahan Kesatuan itu sudah gagal. Atau belum masanya. Meski sudah otonomi daerah, secara substansi sebenarnya tak ada yang berubah: Daerah masih saja jadi sapi perah. Kepala daerah juga tak berdaya. Kesejahteraan pada masyarakatnya tak jua singgah.


Kenapa juga dipertahankan bentuk pemerintahan Kesatuan ini jika berpuluh tahun penguasa menerjemahkannya amatiran. Perubahan bentuk pemerintahan, juga perubahan bentuk negara itu biasa saja. Sebab manusia bepikir. Pastinya mencari formasi yang paling sesuai, dan pemimpinnya punya kapasitas menjalankannya.

Jadi, sangat mungkin sekali Indonesia ini bubar jika ketidakadilan pada daerah terus dipertunjukkan. Bahkan tak perlu harus menunggu 2030 yang dihebohkan itu. Dan tak perlu juga meresponnya dengan teriak-teriak di depan teks: Indonesia tidak akan bubar! Indonesia negara kuat!, kita bukan bangsa pesimis!. Bukan seperti itu cara meresponnya bung. Tapi pikiran yang digunakan.


Negeri Paman Sam saja yang merupakan negara demokrasi terbesar di dunia, berbentuk Serikat. Mereka sadar diri dengan penduduk dan wilayah yang luas. Lalu kenapa berkeras hati juga Republik ini dengan Kesatuan?. Daripada negara ini benar-benar bubar, lebih elok Kesatuan diceraikan dari NKRI. Tabik NFRI (Negara Federal Republik Indonesia). Mungkin. Amiin.

Baca: BGN Perketat Pengawasan Dapur MBG, CCTV Terhubung Pusat dan Cek Kesehatan Wajib

Oleh : Alwira Fanzary Indragiri

-Ketua OKP Lingkar Anak Negeri Riau (LAN-R)

-Wartawan



Terkait
Putusan MK Dinilai Belum Jawab Nasib Guru Honorer, PPPK Paruh Waktu Masih Menanti Kepastian Gaji
Putusan MK Dinilai Belum Jawab Nasib Guru Honorer, PPPK Paruh Waktu Masih Menanti Kepastian Gaji
Zulhas Bantah Isu Pengadaan Kipas Kopdes Rp1,8 Triliun,
Prabowo Resmi Lantik Sudaryono sebagai Kepala BGN, Gant
Kolaborasi Film Nasional Kian Menguat, Hendry Munief Do
Lainnya
BNN Dorong Larangan Total Vape, Modus Narkotika Cair Kian Mengkhawatirkan
BNN Dorong Larangan Total Vape, Modus Narkotika Cair Kian Mengkhawatirkan
Wagubri Edy Natar Nasution Resmikan Bagas Godang di Ro
Kuasa Hukum Rizieq: Bermasalah di Arab, Kok Tak Didepor
Ribuan Warga Nduga Mengungsi Hindari Kontak Senjata TNI
Entertainment
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Salman Borneo, Pengisi Suara Plankton dan Giant di Film
Hendry Munief  Dorong Pemerintah untuk Hadir Bantu Ind
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Pendidikan
Syahrul Aidi dan Hendry Munief Kompak Motivasi Mahasiswa UNRI Mandiri Sejak Kuliah
Syahrul Aidi dan Hendry Munief Kompak Motivasi Mahasiswa UNRI Mandiri Sejak Kuliah
Disdik Pekanbaru Tegaskan Sekolah Wajib Patuhi Kebijaka
Zulhas Ungkap 3 Kunci Sukses kepada 3.005 Mahasiswa Bar
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Olahraga
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda
Politik
Zulhas Tak Mau Nyapres 2029, PAN Tegaskan Tetap Dukung Prabowo
Zulhas Tak Mau Nyapres 2029, PAN Tegaskan Tetap Dukung Prabowo
Ganjar Minta Gerindra Fokus Rakyat Sebelum Bicara Pilpr
NasDem Usul Parliamentary Threshold 7 Persen, Berlaku N