Polri Bantah Pakai Senjata Api, Dinkes DKI: Luka Korban Berasal dari Peluru Karet
Jakarta, KANALSUMATERA.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mencatat sebanyak enam orang tewas dalam kericuhan di Jakarta, Rabu (22/5) dini hari. Salah satu korban teridentifikasi meninggal karena tertembak.
Menanggapi hal itu, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo membantah jajarannya menggunakan menggunakan senjata api dan peluru tajam saat pengamanan.
“Sekali lagi, aparat PAM tidak ada yang dibekali peluru tajam dan senjata api, hanya ton antianarkis,” kata Dedi saat dihubungi oleh Kumparan pada Rabu (22/5).
Dedi mengungkapkan ada pihak tertentu yang memancing kericuhan dengan menyerang aparat kepolisian. Prediksi tersebut dianggap terbukti dengan adanya insiden penyerangan Mako Brimob di Petamburan, Jakarta Barat.
Baca: Ketua BKSAP DPR RI Syahrul Aidi Maazat Puji Pelaksanaan Haji 2026 Namun Memberikan Catatan Perbaikan
“Kan sudah diprediksi ada pihak yang menghendaki seperti itu rusuh, jatuh korban dan menyalahkan aparat,” tandasnya.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau korban kerusuhan yang dibawa ke RS Tarakan. Dalam keterangannya, Anies mengatakan ada 6 korban meninggal dunia yang dibawa ke sejumlah rumah sakit.
"Korban sejauh ini ada 6 korban meninggal. Di RS Tarakan ada 2, kemudian di RS Pelni, kemudian di RS Budi Kemuliaan, RSCM, dan di RS Al Buntoharjo. Dan ini per jam 9 sekarang. Jadi kita-kita ada sekitar 200-an orang luka-luka per jam 9 ini dan ada sekitar 6 orang yang sudah tercatat meninggal," kata Anies di lokasi, Rabu (22/5)
Dinkes DKI Jakarta: Luka Korban Berasa dari Peluru Karet
Baca: Trik dan Tips Menyimpan Daging Kurban: Panduan Resmi dari Kemenkes dan Akademisi Indonesia
Sementara itu, Kepala Dinas DKI Jakarta Widyastuti mengungkapkan korban yang dilarikan ke RS karena tertembak disebabkan oleh peluru karet.
"Sejauh ini yang kami lihat di RS Tarakan tadi memang peluru karet," ujar Kelapa Dinas DKI Jakarta Widyastuti di RS Tarakan usai menjenguk korban, Jakarta, Rabu (22/5).
Korban masih berdatangan ke RS Tarakan. Foto: Efira Tamara Then/kumparan
Dia menyebut semua RS di Jakarta disiagakan untuk menampung korban luka. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi penumpukan pasien di salah satu rumah sakit.
"Jadi saat ini semua tim siaga. Seperti saya sampaikan kemarin, ada 37 titik dilakukan di lapangan, kemudian ada tetapi semua RS siaga kalau memang nanti terjadi penumpukan. Kemudian masalah luka-luka ada luka akibat benda tajam dan tumpul, ada luka lecet, ada luka robek, dan ada luka yang menembus ke pembuluh darah," tutur Widyastuti.
Baca: DPR Minta Pemerintah Mengontrol Komersialisasi Air Bawah Tanah
Terkait penyebab kematian, dia menyebut tengah didalami oleh masing-masing rumah sakit yang menanganinya.
"Diagnosa pasti kita belum dapat. Secara diagnosa sedang didalami di RS masing-masing," jelasnya.
