HNW Ingatkan Arti Penting Ende Kupang Terkait Lahirnya Pancasila
KANALSUMATERA.com - Kupang - Di hadapan masyarakat Kupang, Nusa Tenggara Timur, Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid MA, menyampaikan arti pentingnya posisi Kupang dalam pendirian Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) oleh Presiden Indonesia pertama, Soekarno.
"Ada satu tempat di NTT, ini yang berhubungan langsung dengan upaya Soekarno menggali dan mencari nilai-nilai tentang Pancasila. Saat ini tempat tersebut diabadikan sebagai Taman Renungan Bung Karno dan terletak di Ende NTT. Di tempat itulah, di bawah pohon sukun yang menghadap ke laut, Soekarno menemukan nilai-nilai tentang Pancasila," kata Hidayat saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar kerjasama MPR RI dengan Yayasan Citra Cendana Kupang.
Acara tersebut berlangsung di Hotel NEO Eltari Kupang, Ahad (21/3/2021) malam. Ikut hadir pada acara tersebut, anggota MPR RI FPKS H. Johan Rosihan ST, serta Ketua Yayasan Citra Cendana Kupang Prof. Assoc. Reiner Ishaq Lerrick, M.Sc, Phd.
Dikisahkan HNW, dalam pengasingannya di Ende, Soekarno berhubungan dan bertukar pikiran dengan berbagai kelompok suku bangsa, termasuk tokoh berbagai latar belakang agama. Semua itu membantunya dalam menemukan dasar dan ideologi Pancasila.
Baca: Komisi V DPR Dorong Diskon Tiket Pesawat Lebaran 2026 Capai 20 Persen
Anggota MPR RI FPKS H. Johan Rosihan ST, sebagai pembicara pertama antara lain mengatakan, Indonesia adalah negara yang besar dan beragam. Sebagai negara yang beragam, Indonesia memiliki potensi perpecahan yang besar pula. Tetapi, hingga kini persatuan dan kesatuan Indonesia masih bertahan, salah satunya berkat pondasi Empat Pilar MPR RI yang kuat
"Para pendiri bangsa telah memberi contoh bagaimana menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah mufakat. Soekarno, Mohammad Yamin dan Soepomo adalah tiga orang yang ikut memberikan pemikiran soal Pancasila. Tetapi ketiganya tidak pernah memaksakan pemikirannya sendiri yang harus diterima. Bahkan, ketiganya tunduk dan patuh terhadap hasil keputusan bersama," kata Johan Rosihan. ***
