Ketum PP Muhammadiyah: Bahaya Pilpres Rasa El Clasico

Islami
Senin, 11 Februari 2019 20:54:57
KH Haedar Nashir

KANALSUMATERA.com - El Clasico, begitulah Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengibaratkan Pilpres 2019. Kontestasi pemilihan presiden yang mempertemukan Joko Widodo versus Prabowo Subianto, yang notabene rival di Pilpres 2014, dipandang Haedar Nashir bahaya lantaran berpotensi membelah.

"Situasi politik sekarang ini kan memang membelah (masyarakat). Ini kan akibat dari dua pasangan (capres) yang ini ulangan dari periode yang lalu (di Pilpres 2014). Jadi kayak El Clasico," ucap Haedar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) seperti dikutip dari detikcom, Senin (11/2/2019).

El Clasico yang dimaksud Haedar adalah pertandingan klasik di Liga Spanyol antara Real Madrid versus Barcelona. El Clasico, dalam konteks pertandingan sepakbola sesungguhnya, terkenal keras, panas, dan berlangsung sengit.

Haedar berbicara soal pilpres rasa El Clasico di sela seminar pratanwir Muhammadiyah 'Beragama yang Mencerahkan dalam Perspektif Politik Kebangsaan'.

Baca: Prabowo Lantik Budi Gunawan Jadi Wantimpres, PDIP: Selamat Bekerja

Awalnya Haedar menjelaskan agenda sidang tanwir yang akan dihelat PP Muhammadiyah di Bengkulu pada 15-17 Februari 2019. Bahasan utama sidang tanwir tersebut tentang 'Beragama yang Mencerahkan'.

Dijelaskannya, sidang tanwir ini digelar untuk menyikapi dangkalnya pemahaman agama masyarakat sehingga kerap dimanfaatkan para politikus.

Kedua, untuk menyikapi polarisasi akibat kontestasi Pilpres 2019. Menurut Haedar, polarisasi yang terjadi di masyarakat disebabkan karena Pilpres 2019 merupakan ulangan Pilpres 2014 yang kembali mempertemukan dua capres yang sama.

"Karena El Clasico itu kan muara menang-kalahnya itu tinggi sekali. Nah, akibatnya terjadi apa? Ya to be or not to be. Ketika masyarakat berpolitik to be or not to be, lalu menjadi absolut harus menang dan jangan kalah," paparnya.

Baca: Guru PPPK Dapat Kepastian Status, Ketua DPD Soroti Peluang Jadi PNS 2027

"Apa yang terjadi? Itu (keyakinan to be or not to be berpotensi memantik) suasana yang potensial untuk adanya rasa permusuhan, rasa saling terancam, kebencian, dan sebagainya," ungkapnya.

Untuk menghadapi situasi tersebut, kata Haedar, Muhammadiyah mencoba untuk menghadirkan keseimbangan. Muhammadiyah mengajak masyarakat berpikir jernih dalam menghadapi Pilpres 2019.

"(Kami) mengajak masyarakat untuk berpikir lebih jernih, lebih kontemplatif, dan kembali pada ajaran agama yang mengajarkan kedamaian, persaudaraan, kemudian juga kebajikan, terus juga nilai-nilai amanah," jelas Haedar. iin



Terkait
Tito Karnavian Kaji Guru PPPK Jadi ASN Pusat, Beban APBD Daerah Bisa Berkurang
Tito Karnavian Kaji Guru PPPK Jadi ASN Pusat, Beban APBD Daerah Bisa Berkurang
Bakom dan Kemendagri Selidiki Viral Makalah Usulan MBG
Hendry Munief Apresiasi Kinerja Kementerian UMKM 2025,
Jaga Kedaulatan Negara, Komarudin Watubun Dorong Pemben
Lainnya
Pemprov Riau Terima 28 Lulusan IPDN Angkatan XXXIII, Mayoritas Bertugas di Daerah
Pemprov Riau Terima 28 Lulusan IPDN Angkatan XXXIII, Mayoritas Bertugas di Daerah
Nekat Jadi Jambret di Dabo Singkep, Pria Ini Terancam 5
Anggota DPR RI, Nasir Djamil Disebut Pengusaha Terima U
Gerombolan Kerbau Berkeliaran di Kawasan KPT, Membahaya
Fokus Redaksi
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
Pria Diduga Terjun dari Jembatan Rantau Berangin, Tim G
Kasus Tanah Warisan Kampar, Kuasa Hukum Minta Penyidik
Global
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika, PM K
Prabowo Terima Ramos-Horta di Istana, 20 Peraih Nobel I
Ottech
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Google Resmi Ubah Strategi Update Android, Ini Informas
Disney Tuntut Google Dugaan Pencurian Hak Cipta AI, Ini
Politik
Jokowi Sebut Polemik Ijazah Dirinya dan Gibran sebagai Operasi Politik
Jokowi Sebut Polemik Ijazah Dirinya dan Gibran sebagai Operasi Politik
PKS Buka Peluang Pansus Ijazah Gibran, Jimly Asshiddiqi
PKS Tanggapi Wacana Pansus Ijazah Gibran, Mardani Nilai
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Olahraga
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda