Radikalisme, Definisi Semu dan Potensi Salah Sasaran

Mawardi Tombang
Jumat, 15 November 2019 11:44:28
Pemerintah perlu membuat definisi radikalisme terlebih dahulu agar dapat menemukan langkah tepat untuk memberantasny

KANALSUMATERA.com -- Pemerintah berulang kali menyampaikan tentang bahaya radikalisme sejak Kabinet Indonesia Maju dibentuk pada Oktober lalu. Tak hanya Presiden Joko Widodo (Jokowi), sejumlah menteri juga turut mengutarakan itu secara terbuka kepada publik.Jokowi bahkan sempat mengusulkan penggunaan istilah baru untuk disematkan pada kelompok berpaham radikal. Istilah yang diusulkan itu adalah manipulator agama.Termutakhir, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) bersama sejumlah kementerian/lembaga terkait menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang penanganan radikalisme bagi kalangan aparatur sipil negara (ASN) pada Selasa (12/11).Ada 11 kementerian/lembaga yang ikut menandatangani SKB tersebut, antara lain Kemenko Polhukam, Kemendagri, Kemendag, Kemenkominfo, Kemendikbud, Kemenkumham, BIN, BNPT, BIPP, BKN, KASN.Meski begitu, definisi radikalisme oleh pemerintah selama ini tak pernah jelas. Jika definisi yang semu tentang radikalisme ini terus dipertahankan, maka berpotensi pemberangusannya salah sasaran. Karena itu, Pengamat terorisme dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai pemerintah perlu membuat definisi yang jelas tentang radikalisme terlebih dulu sebelum mengeksekusi. Menurutnya, memperjelas definisi itu perlu agar misi menangkal radikalisme tepat sasaran.Jika tak ada definisi yang jelas tentang radikalisme, dia menganggap bakal berefek bias ke berbagai aspek. Terlebih, selama ini radikalisme kerap diidentikkan dengan agama tertentu.

"Kalau enggak jelas jadi undefinitive itu bahaya, bisa bias ke mana-mana, ini termasuk terminologi yang sangat sensitif," ujar Harits saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (14/11).
Lulung Sebut Pemerintah Lebay Pantau Media Sosial CPNS Dengan membuat definisi yang jelas soal radikalisme, maka pemerintah jadi bisa menemukan cara yang efektif untuk memberantasnya. Harits yakin akan hal itu.
Jika definisi radikalisme berkaitan dengan pemikiran, lanjut Harits, maka cara menanggulangi yang tepat yaitu dengan menghadirkan narasi atau pemikiran untuk menandinginya.

"Dihadirkan pemikiran yang bisa menandingi, jadi untuk diinjeksikan ke masyarakat menjadi imunitas masyarakat agar mereka bisa untuk punya imunitas, tidak terpengaruh pemikiran yang dianggap radikal," tutur Harits.
Menurut Harits, melawan radikalisme tak bisa dilakukan dengan cara kekerasan. Dia menilai justru bakal memunculkan dendam dan berpotensi menimbulkan aksi teror lainnya jika kekerasan yang ditempuh oleh pemerintah. Upaya pemerintah menangkal bahaya radikalisme kembali dihadapkan pada peristiwa teror, yakni peristiwa bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11) kemarin. Polisi menyatakan pelaku diduga terpapar paham radikal.Peristiwa bom bunuh diri di Medan itu kemudian dimanfaatkan pemerintah untuk menguatkan narasi bahwa radikalisme harus diberantas. Harits menganggap wajar jika pemerintah bersikap demikian.

"Ya bagi yang sibuk proyek kontra radikalisme ya dapat suntikan narasi, logis it 12 Kementerian dan Lembaga Teken SKB Tangani Radikalisme ASN
Akan tetapi, dia kembali menegaskan, pemerintah tetap harus membuat definisi jelas tentang radikalisme. Meyakinkan publik tentang bahaya radikalisme menggunakan peristiwa bom bunuh diri Medan tak cukup jika definisi radikalisme itu masih mengawang. Direktur Internasional Association for Counter Terrorism and Security Professionals Center for Security Studies (IACSP) Indonesia, Raykan Adi Brata mengamini bahwa radikalisme memang tak bisa dilepaskan kaitannya dengan terorisme.Premisnya, kata Rakyan, tidak ada terorisme tanpa radikalisme. Bibit radikalisme adalah intoleransi.Meski begitu, tidak semua intoleransi berujung padaradikalisme. Pula, radikalisme tidak selalu berbuntut aksi terorisme.Dengan demikian, Rakyan menilai salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi aksi teror adalah dengan mencegah orang berpikir intoleran. Selain itu, perlu juga menekan penyebaran radikalisme.Menurut Rakyan, cara memerangi radikalisme di Indonesia akan sulit berhasil jika tak ada komitmen dari pemerintah dan masyarakat. Keduanya harus bersinergi jika ingin ada hasil yang optimal.

"Penanggulangan radikalisme dan terorisme ini harus berjalan beriringan dengan kemauan masyarakat untuk melakukan penanggulangan,Soal Bom Medan, Zulhas Sebut Polisi Kecolongan Lagi
Rakyan mengatakan kelompok yang menyebarkan paham radikal tidak pendek akal. Tidak sekedar menyebarkan paham lewat forum, ceramah, dialog dan sebagainya.
Mereka, kata Rakyan, juga kerap memutarbalikan opini yang berkembang di masyarakat. Membuat opini bahwa pemerintah anti terhadap kelompok agama.
"Padahal ini caranya mereka (kelompok radikal) supaya program pemerintah untuk mencegahnya (radikalisme dan terorisme) enggak jalan," ujarnya.
Selama ini, disampaikan Rakyan, aparat penegak hukum juga terlalu fokus pada upaya penangkapan para terduga teroris. Padahal, keberhasilan pencegahan radikalisme dan terorisme bukan dilihat dari banyak penangkapan yang dilakukan."Apakh kita mau ukur keberhasilan dari jumlah penangkapan penjara makin penuh, yang keluar belum tentu sudah tidak radikal," ujarnya

Terkait
DPR Minta Pemerintah Mengontrol Komersialisasi Air Bawah Tanah
DPR Minta Pemerintah Mengontrol Komersialisasi Air Bawah Tanah
Tol Trans Sumatera Belum Selesai, Bapak ini Munculkan W
Waduh... Menhaj Akui Hadapi Banyak "Titipan Kepentingan
KH Cholil Nafis Gantikan Prof Hasanudin sebagai Ketua B
Lainnya
Kamis Pekan Depan, Nurhadi dan Menantunya Hadapi Sidang Perdana
Kamis Pekan Depan, Nurhadi dan Menantunya Hadapi Sidang Perdana
Kuasa Hukum KPU Kuansing Optimis Menangkan Gugatan Pasa
Solok Selatan Diguncang Gempa, Getaran Dirasakan Hingga
Andi Arief Didukung Demokrat Adukan TKN Jokowi ke Kepol
Daerah
Insan Pers Antusias Mengikuti Pemaparan Industri Hulu Migas dari SKK Migas-KKKS APGWI
Insan Pers Antusias Mengikuti Pemaparan Industri Hulu Migas dari SKK Migas-KKKS APGWI
Bupati Zukri  dan Tim Patroli Tinjau Kebakaran Lahan T
Melihat Keindahan Lindok Alam Kampar, Cocok untuk Berba
Kriminal
Gajah Mati Tanpa Kepala di Areal Hutan Akasia, Polda Riau Selidiki dan Buru Pelaku
Gajah Mati Tanpa Kepala di Areal Hutan Akasia, Polda Riau Selidiki dan Buru Pelaku
Polres Bengkalis Gagalkan Perdagangan Orang, Selamatkan
Hati-Hati! Ada Akun Facebook Palsu Mengatasnamakan Plt
Entertainment
Hendry Munief  Dorong Pemerintah untuk Hadir Bantu Industri Film Nasional
Hendry Munief  Dorong Pemerintah untuk Hadir Bantu Industri Film Nasional
Tunggu ya , Serial Televisi Star Wars Segera Diproduksi
Ustadz Abdul Somad di Medan: Ngeri-ngeri Sedap Juga Kur
Fokus Redaksi
Soal Ujian SD di Solok Dinilai Lecehkan Nabi Muhammad, Polisi Periksa Semua Pihak
Soal Ujian SD di Solok Dinilai Lecehkan Nabi Muhammad, Polisi Periksa Semua Pihak
Pedagang Makanan dan Obat Ilegal di Situs Online Ogah C
Lahan Terbakar di Bintan Hanguskan Rumah Sekcam dan Men
Global
Kuba Diembargo AS, BKSAP DPR Desak Kemenlu Beri Dukungan Diplomatik di Forum Internasional
Kuba Diembargo AS, BKSAP DPR Desak Kemenlu Beri Dukungan Diplomatik di Forum Internasional
China  Bangun 'Hong Kong' Baru Tak Jauh dari Indonesia
Tenda Haji di Mina Siap, Menhaj Klaim Hemat Rp 180 M
Leisure
Masyarakat Ingin Libur ke Rupat Utara Terpantau Meningkat
Masyarakat Ingin Libur ke Rupat Utara Terpantau Meningkat
Pengelola Wisata De Kotoz Audiensi dengan Bupati Kampar
Kementerian Pariwisata Luncurkan Karisma Event Nusantar
Lifestyle
Permata Ummat Berharap Pemerintah Beri Fasilitas Yang Cocok Untuk Para Disabilitas
Permata Ummat Berharap Pemerintah Beri Fasilitas Yang Cocok Untuk Para Disabilitas
Forum Pekanbaru Kota Bertuah Bantu Umi Marila Janda Ana
RS Zainab Pekanbaru Hadirkan Klinik Fertilitas, Beri Ha