Sebut Menkeu Menteri Pencetak Utang, Ini Penjelasan BPN Prabowo-Sandi

Islami
Minggu, 27 Januari 2019 20:37:56
Prabowo

KANALSUMATERA.com - Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dradjad Wibowo memberikan penjelasan terkait pernyataan calon presiden yang nomor urut 2 Prabowo Subianto yang mengganti sebutan Menteri Keuangan (Menkeu) menjadi Menteri Pencetak Utang. Dradjad mengatakan, pernyataan tersebut merupakan rangkaian kritik Prabowo tentang pengelolaan ekonomi Indonesia.

"Saya tidak akan berspekulasi apakah itu ditujukan ke Bu Sri Mulyani atau ke menteri keuangan yang lain. Saya hadir dalam acara Sabtu kemarin. Pernyataan mas Bowo (Prabowo) tentang Menteri Pencetak Utang itu sebenarnya dalam satu rangkaian kalimat dengan kritik tentang pengelolaan ekonomi Indonesia," ujarnya seperti dikutip dari detikfinance, Minggu (27/1/2019).

Dia menerangkan, awalnya Prabowo menyinggung soal pernyataan seorang menteri yang menyinggung produk petani Indonesia tak mampu bersaing sehingga lebih baik impor.

Setelah itu, Prabowo juga mempertanyakan rezim ekonomi yang melarang petaninya menjual produknya. Hal itu berkaca pada peristiwa yang terjadi pada bulan Agustus 2017 di mana 15.877 ton gula petani di Cirebon disegel Kementerian Perdagangan.

Baca: Ancam Gembok Dapur MBG Nasional, Mitra Ultimatum BGN Selesaikan Persoalan Sebelum 17 Agustus

"Setelah itu mas Bowo berkata (kira-kira), di bidang keuangan jika Menkeu hanya bisa menumpuk utang, jangan sebut Menkeu, tapi Menteri Pencetak Utang," sambungnya.

Dradjad menjelaskan, hal itu tak lepas dari meroketnya jumlah nominal utang pemerintah selama Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Selama 4 tahun Jokowi (Desember 2014 sampai Desember 2018), utang pemerintah naik Rp 1.809 triliun, dari Rp 2.609 triliun menjadi Rp 4.418 triliun. Sebutnya, tiap tahun naik Rp 452,25 triliun.

Dia mengatakan, kenaikan utang itu jauh lebih tinggi dari 10 tahun pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Utang pemerintah Jokowi tiap tahunnya naik sampai 3 kalilipat dibanding utang zaman SBY.

"Sebagai perbandingan, selama 10 tahun Presiden SBY, kenaikan utang pemerintah 'hanya' Rp 1.309 triliun, atau Rp 131 triliun per tahun. Jadi setiap tahun pemerintahan Presiden Jokowi berhutang rata-rata 3,45 kali lipat dari pemerintahan Presiden SBY. Ini kenaikan yang sangat luar biasa," jelas Dradjad.

Baca: Ribuan Warga Meranti Bekerja di Malaysia, Hendry Munief Dorong Solusi dari Kemenhan dan KKP RI

Memang, kata dia, banyak yang berargumen rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) masih rendah di sekitaran 30%. Sementara, Jepang sudah mencapai 250,4%. Tapi, kata dia, rasio pajak Jepang jauh lebih tinggi dari Indonesia.

"Di Jepang angkanya sekitar 36%. Di Indonesia hanya 10,7% tahun 2017. Ini juga terus turun dari 13,7% (2014), 11,6% (2015) dan 10,8% (2016)," terangnya.

Oleh sebab itu, kata Dradjad, Prabowo menilai siapapun tidak pantas disebut Menkeu jika utang terus menumpuk tapi rasio pajak turun.

"Jadi jika hanya bisa meroketkan jumlah utang pemerintah, sementara rasio pajak turun dan pembayaran utang menjadi beban besar APBN, mas Bowo menilai tidak pantas disebut Menkeu. Siapapun dia," tutupnya. iin

Terkait
Purbaya Akui Merasa Berdosa Pangkas Dana Bagi Hasil untuk Daerah
Purbaya Akui Merasa Berdosa Pangkas Dana Bagi Hasil untuk Daerah
Drone Emprit Baca Sentimen Negatif atas Penggantian Kep
Hutama Karya Segera Konstruksi Tol Jambi–Rengat, Hubu
Stok Beras Aman, Firman Soebagyo Ingatkan Potensi Anoma
Lainnya
Selama Tahun 2022, Pembangunan RLH di Pekanbaru Capai 80 Unit
Selama Tahun 2022, Pembangunan RLH di Pekanbaru Capai 80 Unit
Rizieq Shihab Segera Pulang, Jubir Wapres: Hubungan den
Jelang Akhir Masa Jabatan, DPRD Pekanbaru Sahkan 4 Ranp
Fahri Hamzah Nilai Elektabilitas Jokowi Bakal Turun Jik
Budaya
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan Budaya di Siak Kecil Bengkalis
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan Budaya di Siak Kecil Bengkalis
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Gunting Pita Menjadi Pertanda Kampar Expo 2023 Resmi Di
Viral
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Umrah, Sepeda Motor dan Uang Jutaan Rupiah
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Umrah, Sepeda Motor dan Uang Jutaan Rupiah
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Posko Darurat Asap PKS Riau, Dari Over Kapasitas Hingga
Hukum
Pemprov Riau dan Komnas HAM Bahas Sengketa Lahan di Rohul-Kampar, Fokus Penyelesaian Konflik Agraria
Pemprov Riau dan Komnas HAM Bahas Sengketa Lahan di Rohul-Kampar, Fokus Penyelesaian Konflik Agraria
Warga Bengkalis Datangi Inspektorat Tagih Kejelasan Lap
Waksabi Perkuat Pengawasan Lapas Pekanbaru, Kalapas Tek
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Kriminal
Gajah Mati Tanpa Kepala di Areal Hutan Akasia, Polda Riau Selidiki dan Buru Pelaku
Gajah Mati Tanpa Kepala di Areal Hutan Akasia, Polda Riau Selidiki dan Buru Pelaku
Polres Bengkalis Gagalkan Perdagangan Orang, Selamatkan
Hati-Hati! Ada Akun Facebook Palsu Mengatasnamakan Plt
Global
Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Semua Kapal Bakal Dipungut Biaya 20 Persen
Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Semua Kapal Bakal Dipungut Biaya 20 Persen
Skandal Korupsi Irak Terbongkar, Rp430 Miliar Disembuny
Sugiono Dijadwalkan Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Kham
Daerah
Riau Bhayangkara Run 2026 Gairahkan Ekonomi, Hotel dan UMKM Dipadati Ribuan Peserta
Riau Bhayangkara Run 2026 Gairahkan Ekonomi, Hotel dan UMKM Dipadati Ribuan Peserta
Kadisbunnak Keswan Kampar Bantah Isu Jalan Produksi dan
Plt Gubri Dampingi Wapres Gibran, Tegaskan Komitmen Duk