Walau Hasil Test CPNS Jeblok, BKN Tetap Takkan Turunkan Passing Grade SKD

Mawardi Tombang
Sabtu, 17 November 2018 22:14:31
Bima Haria Wibisana

KANALSUMATERA.com- Badan Kepegawaian Negara (BKN) akhirnya bersikap untuk tidak akan menurunkan passing grade atau nilai ambang batas dalam Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018 meskipun menuai protes di sejumlah daerah karena dinggap terlalu tinggi. Alasannya, BKN tidak ingin merekrut Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tingkat kompetensinya rendah.

Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana mengatakan, Indonesia akan menghadapi perubahan ke depannya. Sementara perubahan itu juga akan dialami oleh ASN dalam menjalankan tugasnya. Karena itu, ASN yang direkrut saat ini harus siap dengan tantangan tersebut.

"Pertama kita ingin PNS itu, PNS yang memiliki kompetensi tinggi. Kenapa begitu, karena Indonesia dalam 10 atau 20 tahun lagi itu sudah akan sangat berbeda dengan sekarang. Sudah industri 4.0, sudah digital ekonomi dan lain - lain. Jadi PNSnya harus cari PNS yang bisa melaksakana beban tanggungjawab itu," katanya saat meninjau pelaksanaan tes CPNS di Kota Malang, Jumat (16/11/2018) sebagaimana dikutip dari kompas.com.

Bima mengatakan, soal yang disusun untuk seleksi tersebut sudah disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia di masa mendatang. Dengan demikian, ASN yang dihasilkan mampu memenuhi tanggungjawabnya. Alasan itu lah yang membuat BKN bersikukuh tidak mau menurunkan passing grade meski memuai banyak protes.

Baca: Fadli Zon Dorong Indonesia Jadi Pusat Kebudayaan Dunia, Kekayaan Nusantara Jadi Modal Utama

"PNS-nya seperti apa yang seperti itu. Kalau dibuat soal, kira - kira soalnya seperti apa. Nah, soal - soal ini lah sebetulnya mencerminkan tugas dan tanggungjawab PNS itu kedepan," ungkapnya.

"Bayangkan 30 tahun lagi anak - anak yang ujian sekarang ini lah yang akan memimpin Indonesia. Saya sudah lenyap. Kalau mereka rekrutmennya asal - asalan, tingkat kompetensinya rendah. Kira - kira Indonesia 30 tahun lagi akan seperti apa. Jadi itu tidak bisa ditawar itu kan. Karena untuk masyarakat juga," jelasnya.

Tingkat Kompetensi yang Jomplang

Sementara itu, Bima mengakui bahwa tingkat kompetensi peserta CPNS di daerah masih banyak yang rendah. Berbeda dengan peserta tes CPNS di kementerian dan lembaga yang tingkat kelulusannya sudah tinggi.

Baca: Prabowo Lantik Letjen Kristomei Sianturi sebagai Kepala BNPB, Gantikan Suharyanto

"Kalau kita lihat kelulusan di kementerian lembaga, ini tinggi, 20 sekian persen. Tahun lalu juga seperti itu. Jadi dari sisi soal sebetulnya tidak ada masalah. Tapi begitu diterapkan di daerah, provinsi atau kabupaten kota, yang lulus jeblok. Untuk yang wilayah barat cuma 3 sekian persen, wilayah tengah 2,75 persen, wilayah timur 1,75 persen, ada gap antara yang lulus di pemerintah pusat dan daerah," terangnya.

Oleh karena itu, Bima menilai banyaknya peserta CPNS yang tidak lolos bukan karena passing grade yang terlalu tinggi atau karena soal yang diberikan. Melainkan karena kualitas pendidikan yang dinilainya belum merata.

"Ini kan bukan salah tesnya kan? Gimana kompetensi mereka kok bisa sangat buruk seperti itu. Ini PR ke depan bagaimana menyamakan atau membuat standart pendidikan Indonesia lebih baik lagi sehingga teman - teman, masyarakat di daerah itu bisa bersaing," katanya.



Terkait
Arsip Pendidikan Gibran Tak Ditemukan di KBRI Singapura dan Australia
Arsip Pendidikan Gibran Tak Ditemukan di KBRI Singapura dan Australia
Gus Kikin Resmi Pimpin PBNU 2026-2031, Terpilih Lewat M
Desa Adat Sade Lombok Dilalap Api, Ratusan Bangunan Rum
90 Persen Pemda Kena Sanksi Sampah, Menteri LH: Bisa Be
Lainnya
Presiden Mesir Dikawal Pasukan Berkuda ke Istana, Prabowo Siapkan Pertemuan Bilateral
Presiden Mesir Dikawal Pasukan Berkuda ke Istana, Prabowo Siapkan Pertemuan Bilateral
UMRI Rayakan Milad Ke-17 Dengan Semangat Inovasi, Kolab
Mendagri: Pemilih Harus Langsung Pulang Setelah Mencobl
Sandiaga Janji Turunkan Ongkos Ibadah Haji Jika Terpili
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan
Pendidikan
UPT SDN 014 Batu Belah Gelar Implementasi SPMI, Libatkan Sejumlah Sekolah di Kecamatan Kampar
UPT SDN 014 Batu Belah Gelar Implementasi SPMI, Libatkan Sejumlah Sekolah di Kecamatan Kampar
Kwarda Riau Buka Kursus Pelatih Pramuka Mahir Dasar, Di
Adam Syafaat: Perempuan Jadi Kunci Gerakan Pelestarian
Ekonomi
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Indonesia Bidik Industri Chip Global, 15.000 Tenaga Ker
BGN Coret 80 Sekolah Swasta Elite dari Penerima MBG, Ad
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Hukum
MUI Apresiasi Kapolri Copot Kapolres Sukoharjo Buntut Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran
MUI Apresiasi Kapolri Copot Kapolres Sukoharjo Buntut Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran
Syahrul Aidi: Investasi Asing Harus Sejalan Kepentingan
Pesantren Kampar Desak Propam Periksa Dugaan Intimidasi
Nasional
Kapolri Larang Polisi Gunakan Vape, Pelanggar Terancam Sanksi Disiplin hingga Pidana
Kapolri Larang Polisi Gunakan Vape, Pelanggar Terancam Sanksi Disiplin hingga Pidana
Kasus Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran Berujung Pen
Senator Kyai Mursyid Sesalkan Penggerebekan Ponpes di
Fokus Redaksi
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
Pria Diduga Terjun dari Jembatan Rantau Berangin, Tim G
Kasus Tanah Warisan Kampar, Kuasa Hukum Minta Penyidik