Doakan Mahmoed Marzuki, Harimau Kampar, Jadi Pahlawan Nasional

Alwira Fanzary
Jumat, 9 November 2018 10:12:29
Prof Suwardi


KANALSUMATERA.com - Perawakannya biasa saja. Tidak terlalu tinggi, tak juga tegap. Namun suara lantangnya mampu mengobarkan semangat puluhan pemuda di Bangkinang, Kabupaten Kampar, Riau, untuk tidak takut mengibarkan Merah Putih.

Bersama pemuda lainnya, Mahmoed Marzuki dengan langkah pasti masuk ke lapangan Controleur Bangkinang (kini Lapangan Merdeka). Berada di puncak, penghormatan bendera Indonesia itu dilakukannya, diikuti puluhan pemuda lainnya.

Ketakutan dibayangi tentara Sekutu dan Jepang yang masih berkeliaran di Bangkinang, tertutupi semangat nasionalisme pada 11 September 2018 itu. Memang terlalu telat karena kabar Indonesia merdeka baru sampai melalui telegram oleh Mahmoed Marzuki pada 5 September 1945.

"Awalnya direncanakan pada 9 September 1945, tapi karena kondisi masih mencekam di Riau. Sekutu belum mengakui kemerdekaan dan berniat membantu Belanda menjajah lagi," jelas sejarawan Riau, Prof Dr Suwardi Ms kepada Liputan6.com, Kamis 8 November 2018.

Baca: Survei Poltracking: Kepuasan Publik ke Prabowo-Gibran Turun Jadi 55,1 Persen

Pembahasan pengibaran bendera memang cukup alot. Kongres yang digelar di daerah Muara Jalai masih membuat masyarakat masih takut. Namun dengan sigap, 'Harimau Kampar' itu berdiri dengan suara lantang agar masyarakat tidak takut.

"Kafir penjajah harus segera diusir, tidak boleh takut di negeri sendiri. Nyawalah untuk kemerdekaan ini," ucap Mahmoed Marzuki yang seketika membakar semangat pemuda kala itu.

Mahmoed Marzuki lahir di Kampar pada tahun 1911. Ragam pendidikan dienyamnya, bahkan sampai ke Aligarh Muslim University India. Sebagai tokoh Muhammadiyah di Riau, dia mulai aktif menyuarakan perlawanan dari sekolah-sekolah yang diajarnya.

"Sekarang masih ada sekolah yang didirikannya dulu, Mualimin di Bangkinang," sebut Suwardi.

Baca: Prabowo Minta Perda Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar Segera Direvisi

Tak hanya guru, tukang pangkas pernah juga dilakoninya di Selat Panjang pada tahun 1934. Perjuangannya juga sampai ke Sumatera Barat sehingga menjadi kebanggaan Buya Hamka.

"Beliau adalah seorang orator terkenal. Buya Hamka saja mengaguminya," kata sejarawan lainnya, Abdul Latif Hasyim yang bersama Suwardi meneliti tentang jejak sejarah Mahmoed Marzuki.

Kekaguman Buya Hamka ini, jelas Latif, terbukti ketika tokoh pejuang asal Sumatera Barat itu selalu berpidato. Nama Mahmoed Marzuki selalu disebut Buya Hamka dan menjadi kebanggaanya.

Menurut Latif, ada dua pejuang yang selalu disebut Buya Hamka. Selain Mahmoed, ada pula nama Kasman Singodimedjo (Pahlawan asal Purworejo).

Baca: DPR Tetapkan Nuzran Joher sebagai Ketua Ombudsman RI Periode 2026-2031

"Kedua nama ini, adalah tokoh muda saat itu yang dibanggakan oleh Buya Hamka. Bangga dengan semangat juang, dan ilmu keagamaan yang dimilikinya. Dua nama ini selalu disebut saat berpidato di Sumatera ini," jelas budayawan asal Kampar ini.

Di Riau, Kampar khususnya, Mahmoed Marzuki membentuk semacam pergerakan pejuang. Anggotanya tergabung dalam "Harimau Kampar".

Namun, Mahmoed Marzuki, hanya setahun bisa menikmati kemerdekaan Indonesia. Dia gugur karena penyakit yang dialami pada 5 Agustus 1946. Penyakit itu akibat siksaan ketika tertangkap Sekutu usai pengibaran bendera.

Menurut sejarawan Suwardi, awal mula tertangkap Mahmoed Marzuki dikenal dengan istilah insiden durian di Danau Bingkuang. Kala itu, tentara Jepang yang masih berada di Riau usai menyerah pada Sekutu dibunuh oleh Pemuda Keamanan Rakyat.

Baca: Pajak Marketplace Ditunda, Ekonom: UMKM Bisa Bernapas Jaga Arus Kas

"Jadi tentara Jepang ini dihadang pemuda ketika maka durian," jelas Suwardi.

Jepang menuduh Mahmoed sebagai dalang karena begitu getol mengusir penjajah dan sebagai aktor pengibaran bendera. Mahmoed yang mengadakan rapat Komite Nasional Indonesia dijemput serdadu Jepang bersenjata lengkap.

Lokasi rapatnya dikepung. Sejumlah rakyat Indonesia ditembaki agar Mahmoed menyerahkan diri. Dengan pertimbangan agar tidak ada jatuh korban lagi, dia menyerah bersama beberapa pemuda lainnya.

"Lalu dibawa ke Pekanbaru, ditahan selama 23 hari. Tahu sendiri kalau penjajah Jepang menyiksa, Mahmoed Marzuki tidak sadarkan diri karena luka," sebut Suwardi.

Baca: DPR Soroti Temuan 995 Senjata di Sekolah, Desak Pengawasan Keamanan Pendidikan Diperketat

Setelah ada perundingan antara Indonesia dengan Sekutu dan Jepang, Mahmoed Marzuki dan pemuda lainnya dilepaskan. Dia pulang lagi ke Kampar dengan kondisi sakit-sakitan.

Dengan kondisinya itu, Mahmoed Marzuki tetap berjuang. Jalannya sudah tidak pakai senjata lagi, melainkan mendirikan beberapa sekolah dengan harapan kelak pemuda bisa mengisi kemerdekaan.

Selama ini, sebut Suwardi, pihaknya bersama peniliti lainnya sudah mengajukan Mahmoed Marzuki sebagai pahlawan nasional. Sudah lima kali diajukan, pemerintah mulai memberi sinyal positif.

"Draf yang diajukan harus direvisi, ini lagi dikerjakan. Mudah-mudahan bisa diakui sebagai pahlawan nasional," harap Suwardi. Lp6/KS



Terkait
Usai Pesan MenPAN-RB, Kepala BKN Ajak 6,7 Juta ASN Terus Mengabdi untuk Negeri
Usai Pesan MenPAN-RB, Kepala BKN Ajak 6,7 Juta ASN Terus Mengabdi untuk Negeri
Hendry Munief Apresiasi Kinerja Kementerian UMKM 2025,
Presiden Cabut Izin 28 Perusahaan untuk Penertiban Kawa
Pulihkan Pangan Nasional, Petani di Daerah Bencana Suma
Lainnya
Karyawan Akui Pinjamkan KTP dan ATM demi Uang, Sidang Korupsi Klaim BPJS Ungkap Modus Baru
Karyawan Akui Pinjamkan KTP dan ATM demi Uang, Sidang Korupsi Klaim BPJS Ungkap Modus Baru
PT Padasa Klarifikasi Soal  Pengosongan Fasilitas Ruma
Tersangka Penipuan Jamaah Umrah Di Pariaman Buka Usaha
Perampok Mobil Box Bermuatan Senilai Rp 2,5 M Diringkus
Global
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika, PM K
Prabowo Terima Ramos-Horta di Istana, 20 Peraih Nobel I
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Politik
Ridho Rahmadi dan Taufik Hidayat Mundur, Partai Ummat Masuk Masa Transisi Kepemimpinan
Ridho Rahmadi dan Taufik Hidayat Mundur, Partai Ummat Masuk Masa Transisi Kepemimpinan
Elektabilitas Eisenkot Ungguli Netanyahu, Partai Smotri
Survei Median: KDM Tembus 19,8 Persen, Elektabilitas Gi
Budaya
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan B
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket