Drone Emprit Baca Sentimen Negatif atas Penggantian Kepala BGN: Ragukan Kompetensi Nanik S Deyang
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) dari Dadan Hindayana kepada Nanik Sudaryati Deyang memicu perdebatan luas di ruang publik. Keputusan pemerintah tersebut menjadi sorotan setelah muncul berbagai pertanyaan terkait dasar pengangkatan kepala BGN yang baru, terutama menyangkut kompetensi akademik dan arah reformasi lembaga yang mengelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan analisis Drone Emprit, sentimen publik terhadap pergantian kepala BGN cenderung terbelah. Sebanyak 47,2 persen percakapan di media sosial bernada negatif, dengan banyak warganet mempertanyakan kapasitas Nanik Sudaryati Deyang di bidang gizi serta menilai pergantian tersebut lebih bernuansa politik dibandingkan pertimbangan teknokratis.
Data Drone Emprit menunjukkan bahwa dalam periode 2 hingga 3 Juni 2026, terdapat 3.134 artikel dan lebih dari 10.774 komentar yang membahas isu tersebut. Total percakapan aktif mencapai 11.711 diskusi yang tersebar di berbagai platform digital, termasuk Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok.
Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menilai bahwa respons publik tidak hanya berkaitan dengan latar belakang pejabat yang ditunjuk, tetapi juga menyentuh aspek kepercayaan terhadap institusi negara.
“Masyarakat khawatir perubahan ini justru mengaburkan transparansi, bukan memperbaiki tata kelola,” ujarnya dalam laporan resmi pada 4 Juni 2026.
Baca: Ketua BKSAP DPR RI Syahrul Aidi Maazat Puji Pelaksanaan Haji 2026 Namun Memberikan Catatan Perbaikan
Program Makan Bergizi Gratis Jadi Sorotan
Kritik publik juga mengarah pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas pemerintah yang selama ini menjadi fokus Badan Gizi Nasional. Sejumlah warganet menilai program tersebut rentan terhadap penyimpangan dan mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh.
Sebagian masyarakat bahkan meminta penghentian sementara atau revisi total program MBG. Kekhawatiran tersebut muncul seiring dugaan lemahnya pengawasan dan potensi penyalahgunaan anggaran. Dalam berbagai percakapan digital, muncul pula peringatan bahwa BGN berpotensi menjadi “pelataran korupsi berikutnya.”
Meski demikian, tidak seluruh respons publik bernada negatif. Analisis Drone Emprit menunjukkan 50,5 persen sentimen secara keseluruhan justru berada pada kategori positif. Di media online, sentimen positif bahkan mencapai 81,3 persen.
Kelompok yang mendukung keputusan pemerintah menilai pergantian pimpinan BGN merupakan langkah tegas Presiden Prabowo Subianto dalam melakukan pembenahan kelembagaan. Mereka juga mengapresiasi langkah cepat aparat penegak hukum dalam mengusut dugaan korupsi yang terkait dengan pelaksanaan program MBG.
Baca: Trik dan Tips Menyimpan Daging Kurban: Panduan Resmi dari Kemenkes dan Akademisi Indonesia
Kejaksaan Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi MBG
Perkembangan terbaru semakin memperkuat perhatian publik terhadap BGN setelah Kejaksaan Agung menetapkan mantan Kepala BGN Dadan Hindayana bersama Sony Sanjaya dan Lodewyk Pusung sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis.
Penetapan tersangka dilakukan kurang dari 24 jam setelah pengumuman resmi pergantian kepala BGN yang disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana Negara.
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Syarief Sulaiman Nahdi, mengungkapkan bahwa penyidik telah mengantongi dua alat bukti yang dianggap cukup untuk menjerat ketiga tersangka menggunakan Pasal 603 dan Pasal 604 KUHP 2023.
Selain penetapan tersangka, aparat juga melakukan penggeledahan di kantor BGN pada dini hari. Operasi tersebut melibatkan empat kendaraan tim jaksa yang mendapat pengamanan dari personel TNI.
Baca: Ahli Gizi Ingatkan Batas Aman Konsumsi Daging, Maksimal 500 Gram per Minggu
Harapan terhadap Kepemimpinan Baru BGN
Di tengah derasnya kritik, sebagian kalangan tetap menaruh harapan terhadap kepemimpinan baru Badan Gizi Nasional. Mereka menilai Program Makan Bergizi Gratis masih memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia apabila dikelola secara transparan dan akuntabel.
“Jika kepemimpinan baru mampu memperbaiki sistem logistik dan akuntabilitas, program ini bisa menjadi tulang punggung pemenuhan gizi anak Indonesia,” kata Fahmi.
Pergantian pucuk pimpinan BGN kini menjadi lebih dari sekadar rotasi jabatan. Peristiwa ini mencerminkan dinamika antara tuntutan reformasi institusi, pemberantasan korupsi, dan kebutuhan menjaga kepercayaan publik terhadap program strategis nasional.
Publik pun menantikan langkah konkret Nanik Sudaryati Deyang dalam menjawab berbagai keraguan yang muncul. Apakah kepemimpinan baru akan membawa perubahan nyata bagi tata kelola Badan Gizi Nasional, atau justru memperpanjang polemik yang saat ini berkembang di ruang publik, masih menjadi pertanyaan yang akan diuji oleh waktu.
Baca: Hendry Munief : SNI Bukan Sekedar Sertifikasi, Melainkan Instrumen Kedaulatan Negara
Sumber: Sumbawanews.com
