Muhammadiyah Laksanakan Tanwir di Bengkulu dan Cerita Bung Karno Kader Muhammadiyah

Amar
Sabtu, 9 Februari 2019 22:25:23
Ir Soekarno, Presiden RI pertama saat melakukan sembahyang

Bengkulu, KANALSUMATERA.com - Tanwir ke 51 Muhammadiyah di gelar di Bengkulu pada 15-17 Februari 2019 nanti. Tanwir merupakan forum tertinggi organisasi Persyarikatan Muhammadiyah di bawah Muktamar.

Digelarnya Tanwir di Bengkulu bukan tanpa sebab dan alasan. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bengkulu Syaifullah mengungkapkan, ada 6 provinsi yang siap menjadi tuan rumah tanwir sebelumnya. Namun, Bengkulu kemudian dipilih sebagai tuan rumah tanwir.

Dipilihnya Bengkulu ternyata memiliki nilai historis tersendiri. Yakni antara proklamator bangsa Ir Soekarno dan Muhammadiyah. Keduanya memiliki keterkaitan sejarah yang erat.

Presiden RI pertama Soekarno merupakan kader Muhammadiyah. Dia menegaskan itu saat Muktamar Setengah Abad Muhammadiyah, yakni tahun 1962.

Baca: Jelang Demo di DPR 27 Agustus 2026, Sejumlah Orang Diamankan Polisi

Cerita Bung Karno masuk Muhammadiyah diawali pada tahun 1938. Kala itu, Soekarno diasingkan di Bengkulu oleh penjajah Belanda.

Disadur dari situs pwmu.co, Bung Karno menjejakkan kaki di Bengkulu pada 14 Februari 1938. Rumah Pengasingannya berada di Kelurahan Anggut, Kecamatan Ratu Samban, dan ditempati selama 4 tahun. Rumah pengasingan yang ditempati Bung Karno sekeluarga adalah milik pedagang keturunan Tionghoa, Tjang Tjeng Kwat.

Begitu mengetahui kalau Soekarno yang merupakan seorang pemimpin pergerakan nasional dibuang ke Bengkulu, tokoh Muhammadiyah setempat Hassan Din, langsung mencari kediaman Soekarno. Kedatangan Hassan Din yang juga tokoh pergerakan ini punya maksud mengajak Soekarno yang berpendidikan tinggi ini supaya mau mengajar di sekolah Muhammadiyah di Bengkulu.

Singkat cerita, Hassan Din akhirnya dapat bertandang ke rumah Bung Karno di Bengkulu. “Ketua Muhammadiyah setempat, Pak Hasan Din, datang di suatu pagi tanpa memberi tahu lebih dulu, suatu hal yang biasa di kalangan kami. ‘Di sini,’ ia memulai, ‘Muhammadiyah menyelenggarakan sekolah rendah agama dan kami sedang kekurangan guru. Ketika di Ende, Bung memiliki hubungan yang akrab dengan salah satu organisasi Islam di Bandung, Persatuan Islam, dan kami dengar Bung sepaham dengan pandangan Ahmad Hassan, guru yang terpelajar itu. Apakah Bung bersedia membantu kami menjadi guru?’

Baca: Monica Subastia Resmi Pimpin Nasyiatul Aisyiyah Periode 2026-2030

‘Kuanggap permintaan ini sebagai satu kehormatan,’ jawabku,” tutur Bung Karno kepada Cindy Adam yang ditulis dalam buku ‘Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’. Sebelum mulai mengajar, Hasan Din juga berpesan kepada Bung Karno untuk tak memasukkan materi politik dalam pelajaran. “Pasti tidak, kecuali hanya akan kusebut bahwa Nabi Muhammad selalu mengajarkan kecintaan kepada Tanah Air,” jawab Bung Karno saat itu.

Tawaran Hassan Din untuk menduduki posisi Ketua Majelis Pendidikan dan Pengajaran diterimanya dengan senang hati. Ia pun dengan senang hati menaiki sepeda onthelnya memberikan pengajaran pada siswa/ siswi Madrasah Muhammadiyah di Kebun Roos. Tak heran jika pada tahun itu pula, Soekarno tercatat sebagai salah satu anggota resmi Muhammadiyah.

Meski demikian, perkenalan Soekarno dan Muhammadiyah telah terjadi sejak tahun 1916-an saat masih di Surabaya. “Dalam suasana yang remang-remang itu datanglah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tabligh mengenai Islam. Bagi saya (pidato) itu berisi regeneration dan rejuvenation daripada Islam,” kata Soekarno di depan Muktamirin Muktamar Setengah Abad 1962 di Jakarta.

Lebih lanjut Soekarno menyatakan, “Nah, suasana yang demikian itulah, saudara-saudara, meliputi jiwa saya tatkala saya buat pertama kali bertemu dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan. Datang Kiai Haji Ahmad Dahlan yang sebagai tadi saya katakan memberi pengertian yang lain tentang agama Islam. Malahan ia mengatakan, sebagai tadi dikatakan oleh salah seorang pembicara, ”Benar, umat Islam di Indonesia tertutup sama sekali oleh jumud, tertutup sama sekali oleh khurafat, tertutup sekali oleh bid’ah, tertutup sekali oleh takhayul-takhayul. Dikatakan oleh Kiai Dahlan, sebagai tadi dikatakan pula, padahal agama Islam itu agama yang sederhana, yang gampang, yang bersih, yang dapat dilakukan oleh semua manusia, agama yang tidak pentalitan, tanpa pentalit-pentalit, satu agama yang mudah sama sekali.”

Baca: MK Putuskan Anggaran MBG Dipisah dari Pendidikan Mulai APBN 2028

Bung Karno juga menuliskan cerita pertemuannya dengan Kyai Dahlan ini dalam buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ bab ‘Memudakan Pengertian Islam’. Buku yang sempat dilarang pada rezim orde baru itu memang berisi pemikiran yang ditujukan kepada pemuda Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Karena ketertarikannya itu, tidak dilewatkannya kesempatan untuk mendengarkan tabligh dari Kyai Dahlan saat di Surabaya. “Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kiyai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil kepadanya.”

Setelah resmi menjadi anggota Muhammadiyah pada tahun 1938, delapan tahun berikutnya, 1946, Bung Karno meminta jangan dipecat dari Muhammadiyah. Ini karena perbedaan paham politik, orang Muhammadiyah umumnya berafiliasi kepada Masyumi sedangkan Soekarno adalah pendiri PNI (Partai Nasional Indonesia).

Bung Karno menegaskan bahwa, “Sekali Muhammadiyah, Selamanya Muhammadiyah”.

sumber: Bengkulutoday

Terkait
Anggaran MBG Dipangkas Rp 67, Ini Sektor yang Terdampak: Penerima Manfaat Tidak Terdampak
Anggaran MBG Dipangkas Rp 67, Ini Sektor yang Terdampak: Penerima Manfaat Tidak Terdampak
Jaga Kedaulatan Negara, Komarudin Watubun Dorong Pemben
Pemerintah Dikritik Angkat SPPG sebagai PPPK, Koalisi G
Kadin: MBG Berpotensi Kerek Pertumbuhan PDB hingga 3,5
Lainnya
Bupati Kasmarni Siap Dukung IWAPI Dalam Membangun Ekonomi Perempuan di Negeri Junjungan
Bupati Kasmarni Siap Dukung IWAPI Dalam Membangun Ekonomi Perempuan di Negeri Junjungan
Peringatan Sumpah Pemuda, Revolusi Mental Relevansi Kem
Ratusan Karyawan Hotel Berbintang di Batam Ikut Bersihk
Laris Manis, King Ayam Geprek di Lampung ini Tawarkan H
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Lifestyle
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Kompres Es di Ketiak untuk Redakan Kecemasan? Ini Penjelasan Psikiater
Bukan Gaji Bulanan, Segini Uang dan Bonus yang Bisa Dit
BPJS Kesehatan Masih Defisit Rp2 Triliun per Bulan, Dan
Politik
Syukur Mandar Dorong Prabowo Pimpin Revolusi Modern untuk Benahi Indonesia
Syukur Mandar Dorong Prabowo Pimpin Revolusi Modern untuk Benahi Indonesia
Golkar Tegaskan Menteri Harus Siap Kerja, Doli: Urus Ne
PSI Tegaskan Tolak Budi Arie, Bestari Barus Singgung ā€
Nasional
Sejumlah Gerbang Tol Dalam Kota Jakarta Ditutup, Pengendara Diminta Cari Jalur Alternatif
Sejumlah Gerbang Tol Dalam Kota Jakarta Ditutup, Pengendara Diminta Cari Jalur Alternatif
Jelang Demo di DPR 27 Agustus 2026, Sejumlah Orang Diam
Demo 27 Agustus di DPR Mulai Padat, Jalan Gatot Subroto
Leisure
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Masyarakat Ingin Libur ke Rupat Utara Terpantau Meningk
Pengelola Wisata De Kotoz Audiensi dengan Bupati Kampar
Olahraga
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan Talenta Sepak Bola Kampar
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan Talenta Sepak Bola Kampar
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda
Dukungan Gianni Infantino Makin Tergerus Jelang Pemilih
Fokus Redaksi
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
Pria Diduga Terjun dari Jembatan Rantau Berangin, Tim G
Kasus Tanah Warisan Kampar, Kuasa Hukum Minta Penyidik