Hendry Munief Dorong RUU Daerah Kepulauan Berbasis Realitas dan Keadilan Geografis

Mawardi Tombang Amar
Sabtu, 29 Agustus 2026 23:05:52

KANALSUMATERA.com - BANGKA BELITUNG — Anggota Komisi VII DPR RI Fraksi PKS, Hendry Munief, M.B.A., mendorong agar Rancangan Undang-Undang (RUU) Daerah Kepulauan disusun dengan menjadikan kondisi geografis sebagai dasar utama dalam menentukan arah kebijakan pembangunan.

Menurut Hendry Munief, daerah yang wilayahnya tersebar di banyak pulau menghadapi beban pelayanan dan pembangunan yang berbeda dibandingkan daerah daratan. Pandangan tersebut disampaikan Hendry Munief dalam kunjungan kerja Panitia Khusus (Pansus) RUU Daerah Kepulauan DPR RI ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Jumat-Sabtu, 28-29 Agustus 2026.

Hendry Munief menegaskan pengalaman di Bangka Belitung menunjukkan bahwa persoalan daerah kepulauan tidak cukup diselesaikan hanya dengan memberikan status atau pengakuan administratif.

“Kita tidak sedang meminta perlakuan istimewa. Kita sedang meminta negara menghitung biaya pembangunan berdasarkan realitas geografis yang sebenarnya." jelasnya.

Hendry Munief mengatakan, karakter geografis harus diterjemahkan ke dalam kebijakan fiskal, pembangunan infrastruktur, konektivitas, pelayanan publik hingga pengelolaan sumber daya laut. Sebab, masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan membutuhkan biaya pelayanan yang berbeda karena harus terhubung melalui laut dan tersebar di berbagai pulau.

Baca: Prabowo Lanjutkan Insentif Ekonomi 2027, Magang hingga PPh 21 Diperluas

Bahan kajian mengenai Bangka Belitung menunjukkan provinsi tersebut memiliki sekitar 501 pulau, dengan wilayah laut yang jauh lebih dominan dibandingkan daratan. Kondisi itu membuat pembangunan dan pelayanan publik memiliki tantangan tersendiri.

“Kalau masyarakat tersebar di ratusan pulau, maka biaya untuk menghadirkan pelayanan negara juga berbeda. Kita tidak bisa menggunakan ukuran yang sama dengan wilayah yang seluruh pusat permukimannya terkoneksi melalui jalan darat,” ujar Hendry.

Perbedaan tersebut terlihat dari biaya logistik yang dalam kajian disebut dapat mencapai sekitar dua hingga tiga kali lebih mahal dibandingkan wilayah daratan. Selain transportasi, biaya pembangunan infrastruktur dan operasional pelayanan juga meningkat karena harus menjangkau wilayah yang terpisah oleh laut.

“Kalau standar biaya kontinental diterapkan begitu saja untuk daerah kepulauan, negara sebenarnya sedang menghitung kebutuhan dengan ukuran yang tidak tepat. Akibatnya, kesenjangan pelayanan bisa terus terjadi,” kata Hendry Munief lagi.

Karena itu, ia mendorong agar formula kebijakan untuk daerah kepulauan memasukkan sejumlah variabel geografis, seperti indeks kemahalan, jumlah pulau, luas wilayah laut, jarak antarpulau dan tingkat keterisolasian.

Baca: Malam Tadi Gunung Marapi Erupsi Lagi, Hujan Abu Guyur Bukittinggi dan Agam

Hendry juga menilai gagasan Dana Khusus Kepulauan (DKK) harus dirancang sebagai instrumen yang benar-benar mampu membiayai tambahan biaya akibat karakter geografis tersebut.

“Kalau negara mengakui ada additional cost karena kondisi geografis, maka harus ada additional funding. Jangan sampai DKK hanya menjadi redistribusi dari anggaran yang sudah ada. Harus ada tambahan pendanaan dengan formula yang jelas dan terukur,” tegasnya.

Menurutnya, formula DKK harus transparan serta memiliki indikator kinerja dan mekanisme evaluasi. Dengan begitu, besaran dukungan fiskal dapat disesuaikan dengan tingkat kesulitan masing-masing daerah kepulauan.

Di sisi lain, Hendry mengingatkan agar keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi. Bangka Belitung mencatat pertumbuhan ekonomi 4,09 persen pada 2025, dengan PDRB sekitar Rp116,81 triliun dan PDRB per kapita sekitar Rp75,32 juta.

“Pertumbuhan ekonomi adalah indikator penting, tetapi kita juga harus melihat apakah pertumbuhan itu benar-benar dirasakan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau. Jangan sampai ekonomi tumbuh di pusat kegiatan, sementara masyarakat di pulau kecil masih menghadapi keterbatasan akses,” ujarnya.

Baca: Polda Riau Turunkan Tim Medis dan Trauma Healing untuk Warga Terdampak Karhutla Kerumutan

Potensi ekonomi laut juga menjadi perhatian Hendry. Bahan kajian mencatat potensi perikanan sekitar 6,2 juta ton per tahun. Potensi tersebut, menurutnya, harus dikembangkan menjadi sumber nilai tambah bagi daerah dan masyarakat pesisir.

“Pertanyaannya bukan hanya berapa banyak ikan yang bisa ditangkap. Yang lebih penting adalah berapa besar nilai ekonomi yang tertinggal di daerah dan dinikmati masyarakat pesisir,” kata Hendry.

Ia mendorong penguatan hilirisasi maritim melalui industri pengolahan, downstreaming, logistik, rantai dingin, koperasi dan UMKM pesisir. Menurutnya, daerah kepulauan jangan hanya menjadi pemasok bahan mentah sementara proses pengolahan dan nilai tambahnya berlangsung di wilayah lain.

“Ekosistem hilirisasi harus dibangun sedekat mungkin dengan daerah penghasil. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya mendapatkan penghasilan dari menjual bahan baku, tetapi juga memperoleh manfaat dari proses pengolahan dan rantai ekonomi setelahnya,” jelasnya.

Hendry juga menilai RUU Daerah Kepulauan perlu memperjelas kewenangan pengelolaan ruang laut antara pemerintah pusat dan daerah. Kejelasan tersebut penting untuk mencegah tumpang tindih perizinan sekaligus memastikan pemanfaatan laut tetap memperhatikan kepentingan masyarakat pesisir.

Baca: Wakil Menteri Perang AS Temui Menhan Sjafrie, Bahas Kelanjutan Kerja Sama Pertahanan RI-AS

“Kewenangan laut harus jelas. Jangan sampai terjadi tumpang tindih antara pusat dan daerah. Pada saat yang sama, masyarakat pesisir harus mendapatkan perlindungan atas ruang hidup dan mata pencaharian mereka,” ujarnya.

Perlindungan masyarakat pesisir dan hukum adat, lanjut Hendry, dapat diperkuat melalui pemetaan wilayah kelola masyarakat, konsultasi sebelum penerbitan izin, perlindungan mata pencaharian tradisional serta mekanisme penyelesaian konflik yang adil.

Dalam pelayanan publik, ia mendorong pendekatan yang lebih adaptif terhadap kondisi kepulauan. Layanan kesehatan terapung, guru berlayar dan pelayanan administrasi keliling dapat menjadi model untuk menjangkau masyarakat di pulau-pulau kecil.

“Negara harus hadir sampai ke masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil. Kalau kondisi geografis membuat mereka sulit datang ke pusat layanan, maka pelayanan yang harus bergerak mendatangi mereka,” kata Hendry.

Konektivitas laut dan digital juga dinilai perlu ditempatkan sebagai kebutuhan dasar. Transportasi laut bukan hanya sarana mobilitas, tetapi menjadi jalur utama masyarakat untuk memperoleh akses pendidikan, kesehatan, kegiatan ekonomi dan pelayanan pemerintahan.

Baca: BGN Perketat Pengawasan Dapur MBG, CCTV Terhubung Pusat dan Cek Kesehatan Wajib

Hendry menegaskan, RUU Daerah Kepulauan juga harus menghindari pendekatan yang hanya melihat status administratif. Sebab, sejumlah daerah yang tidak berstatus provinsi kepulauan tetap memiliki wilayah pesisir, pulau-pulau dan masyarakat yang kehidupannya bergantung pada laut.

“Kita jangan hanya melihat label administratif. Yang harus dihitung adalah realitas geografis dan biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk melayani masyarakat. Itulah esensi dari keadilan geografis,” tutupnya.



Terkait
Presiden Prabowo Pimpin Upacara Peringatan Ke-80 Hari Bhayangkara
Presiden Prabowo Pimpin Upacara Peringatan Ke-80 Hari Bhayangkara
Dari Festival Aspirasi BAM DPR RI, Revitalisasi Infrast
Jaga Kedaulatan Negara, Komarudin Watubun Dorong Pemben
Kadin: MBG Berpotensi Kerek Pertumbuhan PDB hingga 3,5
Lainnya
Polres Dumai Amankan 26 Calon Pekerja Ilegal ke Malaysia: Berasal dari Aceh Bengkulu dan Sumut
Polres Dumai Amankan 26 Calon Pekerja Ilegal ke Malaysia: Berasal dari Aceh Bengkulu dan Sumut
Bupati Kasmarni Raih BAZNAS Award 2025 Kedua Kalinya, B
Hendry Munief Sosialisasi Empat Pilar bersama Guru PAUD
Polisi Siap Amankan Perayaan Malam Imlek di Batam
Hukum
KPK Gelar OTT di BNPB, Sejumlah Pihak Diamankan dan Diperiksa
KPK Gelar OTT di BNPB, Sejumlah Pihak Diamankan dan Diperiksa
Polisi Usut Pengeroyokan Anggota Satpol PP oleh Pekerja
Gatot Heroe Akui Terima Rp3,25 Miliar dari Bos Blueray,
Daerah
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Bupati Kampar Pastikan Bara Karhutla di Rimbo Panjang B
Hadirkan Koh Dennis Lim, Jambore BKPRMI Riau 2026 Usung
Pendidikan
Prof. Ahmad Fadli Raih Suara Terbanyak Pemilihan Rektor Unri, Panitia: Menunggu Pelantikan
Prof. Ahmad Fadli Raih Suara Terbanyak Pemilihan Rektor Unri, Panitia: Menunggu Pelantikan
Kuliah Sambil Beternak Kambing, Auria Lulus UB dengan I
Dua Guru Besar UIN Jakarta Masuk Top 2% Ilmuwan Dunia 2
Ottech
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Google Resmi Ubah Strategi Update Android, Ini Informas
Disney Tuntut Google Dugaan Pencurian Hak Cipta AI, Ini
Kriminal
Dipancing ke Kos, Wanita 19 Tahun Dibunuh Dua Pria di Jaktim
Dipancing ke Kos, Wanita 19 Tahun Dibunuh Dua Pria di Jaktim
Densus 88 Tangkap 11 Tersangka Terorisme di Enam Provin
Pusdokkes Polri Tingkatkan Kemampuan Personel Polda Ria
Nasional
Puan Maharani Soroti Kesehatan Warga Terdampak Karhutla, Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Puan Maharani Soroti Kesehatan Warga Terdampak Karhutla, Minta Pemerintah Bertindak Cepat
Prabowo Jamu El-Sisi di Istana Negara, Hubungan Histori
Presiden Mesir Dikawal Pasukan Berkuda ke Istana, Prabo
Leisure
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Dua Penggerak Desa Sejahtera Astra Raih Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden RI
Masyarakat Ingin Libur ke Rupat Utara Terpantau Meningk
Pengelola Wisata De Kotoz Audiensi dengan Bupati Kampar