Daratan Baru 30,3 Hektare Muncul Dekat Anak Krakatau, Ini Penjelasan Petugas
KANALSUMATERA.com - LAMPUNG SELATAN – Perubahan bentang alam terjadi di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan. Daratan baru dengan luas sekitar 30,3 hektare muncul di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.
Kemunculan daratan tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Material vulkanik yang terlontar dari gunung api kemudian terakumulasi secara bertahap hingga membentuk permukaan daratan baru.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, membenarkan adanya daratan baru tersebut.
Baca: Hendry Munief Dorong Hilirisasi Kopi, Nilai Tambah Harus Naik: Petani dan Pengusaha harus Untung
"Ya, hasil dari letusan kemarin itu. Kurang lebih 30,3 hektare," ujar Suwarno, Rabu (23/09/2026).
Menurut Suwarno, daratan tersebut tidak terbentuk secara tiba-tiba akibat satu kali letusan. Material hasil erupsi telah mengalami penumpukan seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Baca: Gaji Hakim Naik, Mahkamah Agung Ajukan Tambahan Anggaran Rp7,92 Triliun
Lokasi daratan baru itu juga masih berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Petugas pemantauan terus mengamati perubahan yang terjadi di kawasan tersebut.
"Ya, enggak jauh, di sekitar itu aja. Hasil dari situ, lontaran apa... hasil erupsi kemarin itu di situ," katanya.
Muncul Spekulasi Cucu Krakatau
Baca: PGRI Tegaskan Guru PPPK Tak Otomatis Jadi PNS, Seleksi 2027 Tetap Berlaku
Kemunculan daratan baru seluas 30,3 hektare tersebut kemudian memunculkan spekulasi di tengah masyarakat. Salah satunya terkait kemungkinan terbentuknya gunung api baru yang populer disebut sebagai "cucu Krakatau".
Namun, petugas pemantauan belum dapat memastikan bahwa daratan baru tersebut merupakan awal terbentuknya gunung api baru.
Baca: Demo 27 Agustus di DPR Mulai Padat, Jalan Gatot Subroto Ditutup dan Polisi Perketat Pengamanan
Suwarno menegaskan, perubahan daratan akibat akumulasi material erupsi tidak bisa langsung dijadikan bukti munculnya pusat erupsi baru.
"Ya, enggak jugalah, enggak," ujarnya ketika ditanya mengenai kemungkinan daratan tersebut menjadi cikal bakal "cucu Krakatau".
Ia menjelaskan Gunung Anak Krakatau masih memiliki sistem saluran magma di bawah permukaan. Namun, kondisi magma di dalam bumi tidak dapat diketahui hanya berdasarkan perubahan yang terlihat di permukaan.
Baca: BGN Larang Siswa Bawa Pulang MBG, Ini Alasan dan Batas Waktu Konsumsinya
"Ya, namanya magma gitu kan, dia mencari celah-celah yang lebih ringan akan keluar," kata dia.
Karena itu, kemungkinan terbentuknya pusat erupsi baru masih membutuhkan pengamatan lebih lanjut.
Baca: Bahlil Tanggapi Pujian Prabowo, Pilih Buktikan Kinerja Lewat Kerja Nyata
"Enggak tahu juga gitu kan, namanya di dalam, di dalam bumi kita enggak tahu," ujarnya.
Status Gunung Anak Krakatau Turun Menjadi Waspada
Kemunculan daratan baru tersebut terjadi setelah Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik pada 2026.
Baca: Tunjangan Profesi Guru Kemenag Melonjak 700 Persen, Menag Sebut Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah
Gunung Anak Krakatau sebelumnya berstatus Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Setelah dilakukan evaluasi terhadap perkembangan aktivitas gunung api, statusnya kemudian diturunkan menjadi Level II atau Waspada pada 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.
Meski status aktivitas telah turun, pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau tetap dilakukan. Masyarakat dan pengunjung juga perlu mengikuti rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan otoritas terkait.
Baca: Usai Pesan MenPAN-RB, Kepala BKN Ajak 6,7 Juta ASN Terus Mengabdi untuk Negeri
Dengan demikian, daratan baru seluas 30,3 hektare yang muncul di sekitar Anak Krakatau saat ini lebih tepat dipahami sebagai hasil akumulasi material vulkanik. Sementara kemungkinan terbentuknya gunung api baru atau "cucu Krakatau" belum dapat dipastikan dan masih memerlukan pemantauan serta kajian lebih lanjut. (SM)
