Mike Johnson Mundur dari Pimpinan Partai Republik Usai Kekalahan Pemilu Sela AS
KANALSUMATERA.com - WASHINGTON – Kekalahan Partai Republik dalam pemilihan umum sela (midterm election) Amerika Serikat (AS) membawa dampak besar terhadap peta kepemimpinan politik di Kongres. Ketua DPR AS, Mike Johnson, memutuskan tidak melanjutkan posisinya sebagai pemimpin Partai Republik di DPR setelah partainya mengalami kekalahan telak.
Keputusan politik tersebut dikonfirmasi oleh juru bicara Johnson pada Rabu (04/11/2026) waktu setempat. Kabar ini muncul sehari setelah Partai Demokrat berhasil merebut kendali kedua kamar Kongres AS.
Dilansir dari AFP, Kamis (05/11/2026), ketika dimintai konfirmasi mengenai kabar pengunduran diri tersebut, juru bicara Johnson memberikan jawaban singkat melalui email.
Baca: Presiden Mesir Dikawal Pasukan Berkuda ke Istana, Prabowo Siapkan Pertemuan Bilateral
"Benar."
Johnson, politikus Partai Republik berusia 54 tahun dari Louisiana, disebut telah menyampaikan keputusannya kepada para staf pada Rabu pagi. Langkah tersebut menjadi salah satu dampak langsung dari hasil pemilu sela yang tidak sesuai dengan harapan Partai Republik.
Baca: PW Mathla'ul Anwar Riau Audiensi dengan Menteri Koperasi, Undang Pembukaan Muswil 2026 di Pekanbaru
Sebelumnya, Johnson cukup optimistis dapat mempertahankan dominasi partainya di DPR AS. Namun, hasil pemungutan suara justru memperlihatkan keberhasilan Partai Demokrat merebut kekuatan politik di Kongres sekaligus memberikan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump.
Mike Johnson Pimpin DPR AS Sejak 2023
Mike Johnson mulai menjabat sebagai Ketua DPR AS pada Oktober 2023. Ia terpilih setelah Partai Republik mengalami konflik internal menyusul pencopotan ketua DPR sebelumnya, Kevin McCarthy.
Baca: Gelang Merah, Kuning, Hijau Jadi Penanda Kondisi Korban KM Virgo
Saat itu, Johnson muncul sebagai kandidat kompromi setelah para anggota Partai Republik kesulitan mencapai kesepakatan mengenai sosok pengganti McCarthy.
Selama kepemimpinannya, Johnson dikenal sebagai salah satu tokoh penting Partai Republik dan memiliki kedekatan politik dengan Presiden Donald Trump.
Baca: Hendry Munief Dorong RUU Kawasan Industri Wajibkan Pendampingan UMKM dan IKM
Bahkan, ia sebelumnya berupaya keras mempertahankan mayoritas tipis Partai Republik di DPR AS. Johnson juga sempat memberikan sinyal akan tetap memimpin partainya meskipun Demokrat berhasil mengambil alih kendali DPR.
Namun, keputusan untuk tidak kembali mencalonkan diri sebagai pemimpin minoritas Partai Republik membuka persaingan baru di internal partai.
Dua nama yang mulai mencuat sebagai kandidat pengganti adalah Steve Scalise, Pemimpin Mayoritas DPR AS, serta Jim Jordan, Ketua Komite Kehakiman DPR AS. Keduanya dikenal sebagai politikus konservatif yang merupakan pendukung Trump.
Baca: 10,67 Juta Orang Berebut Kerja, Pakar UGM Dorong Pendidikan Direvitalisasi
Trump Puji Kepemimpinan Mike Johnson
Presiden Donald Trump turut memberikan tanggapan atas keputusan Johnson. Trump menyampaikan apresiasi terhadap kepemimpinan Johnson dan menyatakan tidak akan mencampuri proses pemilihan penggantinya.
Baca: Komisi III DPR Jemput Aspirasi Daerah, Matangkan RUU Perampasan Aset Berkeadilan
"Namun, ketua DPR itu luar biasa. Orang-orang yang bekerja di bawahnya juga luar biasa. Mereka semua orang baik," kata Trump kepada wartawan.
Pemilihan pemimpin baru Partai Republik di DPR AS diperkirakan berlangsung pada Selasa pekan berikutnya.
Sementara itu, Johnson dipastikan tetap memiliki kursi sebagai anggota DPR AS dari Louisiana setelah berhasil terpilih kembali dalam pemilu sela tersebut.
Baca: Ancam Gembok Dapur MBG Nasional, Mitra Ultimatum BGN Selesaikan Persoalan Sebelum 17 Agustus
Dengan demikian, keputusannya tidak mencalonkan diri sebagai pemimpin minoritas Partai Republik bukan berarti Johnson langsung meninggalkan Kongres atau otomatis berhenti dari jabatan Ketua DPR AS pada saat itu.
Hakeem Jeffries Berpeluang Jadi Ketua DPR AS Berikutnya
Baca: Kemenag Uji Coba Sistem Gaji Terintegrasi, Update Data Pegawai Jadi Kunci: Juni Uji Coba
Di sisi lain, kemenangan Partai Demokrat membuka peluang bagi Hakeem Jeffries untuk menduduki posisi Ketua DPR AS berikutnya.
Pemimpin Partai Demokrat di DPR tersebut telah meminta dukungan dari rekan-rekan separtainya pada Rabu (4/11/2026).
Jeffries diperkirakan memiliki peluang besar untuk menduduki jabatan tersebut ketika Kongres baru mulai bersidang pada Januari 2027.
Baca: Anggota DPR Hendry Munief Minta Pemerintah Tangkap Peluang Pelemahan Ekonomi Singapura
Apabila terpilih, ia akan mencatat sejarah sebagai orang kulit hitam pertama yang menjabat Ketua DPR AS.
Jeffries menyatakan bahwa keterjangkauan biaya hidup dan pertanggungjawaban pemerintahan akan menjadi prioritas utama dalam kepemimpinannya.
Baca: Masalah BPJS Bersumber dari Belum Solidnya DTSEN: Komisi VIII Dorong Perbaikan Sistem
"Masa ketika DPR berfungsi seperti anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki pemerintahan Trump telah berakhir," tulisnya dalam surat kepada anggota DPR dari Partai Demokrat.
"Kami akan meminta para penjahat bertanggung jawab," tambahnya, seraya menjanjikan langkah-langkah terkait biaya layanan kesehatan, tarif, dan perang Iran.
Perubahan peta kekuatan politik di Kongres AS ini menjadi tantangan baru bagi Partai Republik dan pemerintahan Donald Trump. Mundurnya Johnson dari persaingan kepemimpinan partai juga menandai dimulainya perebutan posisi strategis di internal Partai Republik setelah kekalahan dalam pemilu sela 2026. (SM)
