10,67 Juta Orang Berebut Kerja, Pakar UGM Dorong Pendidikan Direvitalisasi

Kanama Amar
Minggu, 9 Agustus 2026 13:11:49

KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Persaingan mendapatkan pekerjaan di Indonesia semakin ketat. Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Sartono, mencatat sedikitnya 10,67 juta orang berada dalam persaingan mencari pekerjaan. Sabtu (08/08/2026).

Angka tersebut merupakan gabungan antara pencari kerja baru dari lulusan pendidikan menengah dan perguruan tinggi dengan jumlah pengangguran yang masih ada.

Agus menjelaskan, setiap tahun Indonesia menghasilkan sekitar 3,5 juta lulusan SLTA, baik SMA, SMK, MA maupun sederajat. Dari jumlah tersebut, sekitar 2 juta orang dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Baca: Cuaca 6 Provinsi Rawan Karhutla 10 Oktober 2026, Riau dan Sumsel Wajib Waspada

Sementara sekitar 1,5 juta lulusan SLTA lainnya langsung masuk ke pasar tenaga kerja. Pada saat yang sama, terdapat sekitar 1,95 juta lulusan perguruan tinggi dari jenjang diploma hingga magister yang juga mulai mencari pekerjaan.

Berdasarkan data Sakernas BPS Mei 2026, jumlah pengangguran tercatat mencapai 7,22 juta orang.

Baca: Prabowo Undang Jokowi ke Kertanegara, Ajudan Ungkap Pertemuan Dua Jam

"Sehingga secara total terdapat setidaknya 3,45 juta pencari kerja baru. Ditambah dengan angka pengangguran sekitar 7,22 juta, terdapat setidaknya 10,67 juta pencari kerja," kata Agus.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus menciptakan iklim usaha yang mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.

"Di sinilah tantangan riil bagi pemerintah agar menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga penciptaan kesempatan kerja meningkat," imbuhnya.

Baca: Green Policing Diperkenalkan, Kapolda Riau Bekali Taruna Akpol

Persaingan Kerja Makin Ketat

Agus menilai tingginya jumlah lulusan baru yang masuk ke pasar kerja setiap tahun membuat persaingan memperoleh pekerjaan semakin berat. Kondisi tersebut terlihat dari tingginya jumlah peserta dalam berbagai kegiatan rekrutmen dan bursa kerja.

Baca: Habiburokhman Tegaskan RUU Perampasan Aset Tak Cuma Bidik Koruptor, 13 Kejahatan Masuk Sasaran

"Tidak heran di setiap kesempatan perekrutan kerja atau job fair selalu membludak peminatnya," ujarnya.

Persaingan tersebut juga dapat mendorong lulusan perguruan tinggi mengambil pekerjaan yang berada di bawah tingkat kualifikasinya. Langkah itu dilakukan sebagian pencari kerja agar tetap memiliki penghasilan dan tidak menganggur.

Menurut Agus, kondisi tersebut berpotensi menekan tingkat pendapatan pekerja karena seseorang dengan pendidikan lebih tinggi harus bersaing pada pekerjaan yang semestinya dapat diisi lulusan pendidikan menengah.

Baca: Hendry Munief Dorong RUU Daerah Kepulauan Berbasis Realitas dan Keadilan Geografis

"Bayangkan, dengan menurunnya level akibat kurangnya kesempatan kerja, gaji yang diterima hanya cukup untuk bertahan dan tidak sempat menabung. Termasuk untuk memenuhi kewajiban pembayaran BPJS saja, masih banyak yang tidak mampu," imbuh Agus.

Ia juga mengingatkan persoalan tersebut berkaitan dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan ekonomi. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat utang pembiayaan pinjaman online legal mencapai Rp105,14 triliun pada Juni 2026 atau tumbuh 25,88 persen secara tahunan.

Baca: Jelang Demo di DPR 27 Agustus 2026, Sejumlah Orang Diamankan Polisi

"Ini merupakan peringatan serius betapa bahayanya jika konsumsi dibiayai dengan utang," lanjutnya.

Pendidikan Perlu Lebih Sesuai Kebutuhan Dunia Kerja

Agus mendorong pemerintah melakukan revitalisasi pendidikan agar lulusan tidak sekadar memperoleh ijazah, tetapi memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Baca: Gaji dan Tunjangan Guru Diminta Naik Usai Pemerintah Tingkatkan Tukin Prajurit TNI

Menurut dia, penguatan pendidikan vokasi menjadi salah satu langkah yang dapat ditempuh. Pemerintah sebelumnya telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan akses, kualitas, serta relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri dan pasar kerja.

Baca: Putusan MK Dinilai Belum Jawab Nasib Guru Honorer, PPPK Paruh Waktu Masih Menanti Kepastian Gaji

Program seperti Prakerja dan magang juga dinilai dapat membantu mempersempit kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan.

"Pemerintah kala itu juga membuat rencana pembangunan politeknik di berbagai kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus. Tujuannya, selain mencetak tenaga kerja level menengah yang siap kerja, juga membekali calon entrepreneur muda," terang Agus.

Ia menilai pengembangan politeknik di kawasan industri perlu kembali diperkuat. Pendidikan vokasi, kata dia, tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pekerja terampil, tetapi juga dapat menjadi sarana mencetak wirausaha baru.

Baca: Kejagung Ungkap Dugaan Pemborosan Program MBG Capai Rp10,5 Triliun per Tahun

Dengan semakin banyak lulusan yang memiliki keterampilan praktis dan kemampuan berwirausaha, peluang menciptakan lapangan pekerjaan baru diharapkan ikut meningkat.

Industrialisasi Dinilai Penting

Baca: Korupsi Program MBG Meluas, Brigjen Polisi Jadi Tersangka Kasus Pengadaan Ompreng

Selain membenahi sistem pendidikan, Agus menilai pemerintah perlu mempercepat industrialisasi. Menurutnya, peningkatan kapasitas industri akan berpengaruh langsung terhadap kemampuan ekonomi dalam menciptakan lapangan pekerjaan.

"(Pemerintah perlu) memanfaatkan momentum Keputusan MK terkait anggaran fungsi pendidikan, saatnya melihat kembali kebijakan lama yang belum tuntas dilaksanakan," ungkap Agus.

Di tingkat perguruan tinggi, pembenahan kualitas pendidikan juga perlu berjalan beriringan dengan penguatan riset dan inovasi. Perguruan tinggi dinilai harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan kebutuhan industri.

Baca: Sosialisasi Empat Pilar dengan Perempuan Muhammadiyah, Hendry Munief Puji Kontribusi PW Aisyiyah

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari seberapa cepat mereka dapat memasuki dunia kerja.

"Apa pun jenjang dan jenis pendidikannya, bottom line-nya adalah "kebekerjaan" lulusan atau dalam istilah yang lebih halus, waiting time lulusan agar tidak justru menambah pengangguran," pungkasnya. (SM)



Terkait
Komisi V DPR Dorong Diskon Tiket Pesawat Lebaran 2026 Capai 20 Persen
Komisi V DPR Dorong Diskon Tiket Pesawat Lebaran 2026 Capai 20 Persen
Anggota DPR Hendry Munief Minta Pemerintah Tangkap Pelu
Dari Festival Aspirasi BAM DPR RI, Revitalisasi Infrast
Pemerintah Dikritik Angkat SPPG sebagai PPPK, Koalisi G
Lainnya
DPRD Pekanbaru Sahkan Dua Ranperda Menjadi Perda, Berikan Beberapa Catatan
DPRD Pekanbaru Sahkan Dua Ranperda Menjadi Perda, Berikan Beberapa Catatan
Ini Ancaman Hukuman bagi Polisi yang Pamer Gaya Hidup H
Razia Tim 7, Berbagai Penyakit Masyarakat Ditertibkan D
Tidak Ada Lagi Kisi-kisi Debat Capres, JK: Presiden Pen
Global
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika, PM K
Prabowo Terima Ramos-Horta di Istana, 20 Peraih Nobel I
Olahraga
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda
Politik
Jokowi Sebut Polemik Ijazah Dirinya dan Gibran sebagai Operasi Politik
Jokowi Sebut Polemik Ijazah Dirinya dan Gibran sebagai Operasi Politik
PKS Buka Peluang Pansus Ijazah Gibran, Jimly Asshiddiqi
PKS Tanggapi Wacana Pansus Ijazah Gibran, Mardani Nilai
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Ekonomi
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Indonesia Bidik Industri Chip Global, 15.000 Tenaga Ker
BGN Coret 80 Sekolah Swasta Elite dari Penerima MBG, Ad
Nasional
Karhutla Berulang Tiap Tahun, Syahrul Aidi Dorong TNI Jalankan Operasi secara Terencana dan Terpadu
Karhutla Berulang Tiap Tahun, Syahrul Aidi Dorong TNI Jalankan Operasi secara Terencana dan Terpadu
Prabowo Targetkan 70 Ribu Polisi Hutan, Rekrutmen 21 Ri
Prabowo Lantik Letjen Kristomei Sianturi sebagai Kepala
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D