Karyawan Akui Pinjamkan KTP dan ATM demi Uang, Sidang Korupsi Klaim BPJS Ungkap Modus Baru

Kanama Amar
Senin, 3 Agustus 2026 18:21:23

KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Fakta baru terungkap dalam sidang dugaan korupsi klaim fiktif Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) BPJS Ketenagakerjaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat. Sejumlah karyawan mengaku menyerahkan dokumen pribadi seperti KTP, kartu BPJS Ketenagakerjaan, hingga kartu ATM kepada pihak lain setelah dijanjikan imbalan uang. Senin (03/08/2026).

Keterangan tersebut disampaikan para saksi saat diperiksa Jaksa Penuntut Umum (JPU). Mereka merupakan karyawan International Sports Center Indonesia yang identitasnya diduga dipakai dalam proses pengajuan klaim JKK.

Di hadapan majelis hakim, para saksi menyatakan tidak pernah mengalami kecelakaan kerja maupun mengajukan klaim BPJS Ketenagakerjaan. Namun, mereka mengakui sempat meminjamkan dokumen identitas kepada seseorang bernama Budi dan Derry karena tergiur imbalan uang serta sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Baca: Prabowo Jamu El-Sisi di Istana Negara, Hubungan Historis Indonesia-Mesir Jadi Sorotan

Salah seorang saksi, Munardi, mengungkapkan dirinya menyerahkan KTP, kartu BPJS, dan kartu ATM lantaran membutuhkan biaya pendidikan anaknya.

"Perlu uang enggak? Kalau memang saya lagi susah ya, Bu ya. Lagi susah ya. Mau masukin sekolah anak. Siapa yang enggak perlu uang saya bilang gitu. Ya sudah kalau memang perlu sini pinjam ini, ini seperti yang disebut di situ tadi," ujar Munardi di hadapan majelis hakim.

Baca: Cuaca 6 Provinsi Rawan Karhutla 10 Oktober 2026, Riau dan Sumsel Wajib Waspada

Beberapa hari setelah dokumen diserahkan, Munardi mengaku menerima uang tunai sebesar Rp1,5 juta.

"Waktu itu saya sudah dapat Rp1.500.000 buat masuk sekolah," kata dia.

Saksi Lain Terima Imbalan Beragam

Baca: Hendry Munief: Konektivitas Antarpulau Jadi Isu Penting dalam RUU Daerah Kepulauan

Pengakuan serupa juga disampaikan saksi Mustari. Ia mengaku menyerahkan KTP dan kartu BPJS kepada Budi karena sedang membutuhkan uang.

"Ya itu yang dari Budi itu," kata Mustari saat ditanya apakah pernah menerima uang dari seseorang.

Baca: Polemik Desil Memanas, Kemensos dan BPS Buka Data Bersama CELIOS

Mustari mengaku memperoleh uang sebesar Rp500 ribu sebagai imbalan.

Sementara itu, saksi Febriansyah mengaku diminta menyerahkan KTP, kartu BPJS, dan rekening bank tanpa mengetahui tujuan penggunaannya.

"Saya tanya untuk apa? Cuman dia bilang, 'Ya, nanti juga dapat uang.' Dia bilang kayak gitu doang, Bu," ujar Febriansyah.

Baca: Prabowo Minta Perda Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar Segera Direvisi

Ia mengatakan menerima uang sebesar Rp1 juta, tetapi tidak mengetahui bahwa identitasnya diduga digunakan dalam proses klaim BPJS.

Saksi lainnya, Tabroni, mengaku memperoleh Rp2 juta setelah menyerahkan dokumen identitas.

Baca: Danantara Pangkas 874 Perusahaan BUMN, Tinggal 200 hingga Akhir 2026

"Saya orang awam, Bu. Nggak ngerti," ucap Tabroni ketika ditanya apakah mengetahui uang tersebut berasal dari klaim BPJS.

Sedangkan Suci Pandowo mengaku menerima tawaran tersebut karena sedang membutuhkan biaya setelah istrinya melahirkan.

"Yang namanya orang butuh duit. Kan waktu itu kan memang lagi bini saya habis lahir dan memang saya lagi butuh duit, Bu," kata Suci.

Baca: 10,67 Juta Orang Berebut Kerja, Pakar UGM Dorong Pendidikan Direvitalisasi

Menurut keterangannya, Budi menjanjikan imbalan sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta setelah meminta KTP, kartu BPJS, dan kartu ATM miliknya.

Jaksa Sebut 391 Klaim Direkayasa, Negara Rugi Rp24,5 Miliar

Baca: BGN Perketat Pengawasan Dapur MBG, CCTV Terhubung Pusat dan Cek Kesehatan Wajib

Dalam perkara ini, jaksa mendakwa tiga terdakwa, yakni mantan HRD PT Mitra Adiperkasa sekaligus Direktur PT Empat Enam Sejahtera Renu Arianthi Sani, serta dua mantan pejabat verifikasi klaim BPJS Ketenagakerjaan, Sri Listiani dan Sayoko Adi Nugroho.

Jaksa menyebut praktik dugaan korupsi berlangsung sejak 2014 hingga 2024 dengan total kerugian negara mencapai Rp24,5 miliar berdasarkan audit investigatif Satuan Pengawasan Internal BPJS Ketenagakerjaan.

"Selama periode 2015 sampai 2024 terdapat sekitar 391 pengajuan klaim JKK yang direkayasa dengan total pencairan sekitar Rp24.548.667.498," kata jaksa saat membacakan dakwaan.

Baca: Prabowo Resmi Lantik Sudaryono sebagai Kepala BGN, Gantikan Nanik Deyang

Dalam dakwaan disebutkan para terdakwa diduga memalsukan berbagai dokumen persyaratan klaim, mulai dari surat keterangan kepolisian, surat perusahaan, hingga surat rumah sakit.

Jaksa juga mengungkap mekanisme pembagian dana setelah klaim dicairkan.

Baca: Tifatul Sembiring Dorong Pengembangan Ekonomi Utara, Singgung Ketimpangan Destinasi dan Industri

"Setelah dana masuk ke rekening peserta, Renu meminta peserta mentransfer sekitar 75 persen dana klaim ke rekening pribadinya. Selanjutnya Renu membagikan sekitar 25 persen kepada Sri Listiani maupun Sayoko Adi Nugroho," ujar jaksa.

Berdasarkan dakwaan, Renu diduga menikmati dana sekitar Rp16,3 miliar, Sri Listiani sekitar Rp5,9 miliar, dan Sayoko Adi Nugroho sekitar Rp1,63 miliar. Ketiganya didakwa melanggar ketentuan dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan dakwaan primer maupun subsider terkait dugaan korupsi klaim fiktif BPJS Ketenagakerjaan. (SM)



Terkait
Anggota DPR Usulkan Pelatihan Calon Manajer Kopdes Tetap Berjalan Tanpa Latsarmil
Anggota DPR Usulkan Pelatihan Calon Manajer Kopdes Tetap Berjalan Tanpa Latsarmil
Purbaya Buka Suara Terkait Pencairan JHT yang Dikenai P
Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Pimpin Sertijab Pejabat Str
Update Bencana Sumatera per 31 Desember oleh BNPB: Korb
Lainnya
Venezuela-AS Sepakati Kerja Sama Energi 25 Tahun, Target Produksi Minyak 1,5 Juta Barel
Venezuela-AS Sepakati Kerja Sama Energi 25 Tahun, Target Produksi Minyak 1,5 Juta Barel
KONI Payakumbuh Studi Banding ke KONI Pekanbaru, Dalami
Komisi II DPRD Pekanbaru Segera Panggil Pemilik Gudang
Dinas PUPR Pekanbaru Turunkan Armada Bersihkan Sampah
Budaya
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan B
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Hukum
dr Tifa Soroti Transkrip Nilai Jokowi, Pertanyakan Riwayat Kuliah Semester 7 hingga 10 di UGM
dr Tifa Soroti Transkrip Nilai Jokowi, Pertanyakan Riwayat Kuliah Semester 7 hingga 10 di UGM
GEMA Keadilan Riau Desak Polda Usut Tuntas 22 Kasus Maf
MUI Apresiasi Kapolri Copot Kapolres Sukoharjo Buntut P
Global
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika, PM K
Prabowo Terima Ramos-Horta di Istana, 20 Peraih Nobel I
Ottech
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Aktivasi Internet Rakyat Mulai Januari 2026, Berikut Cara Daftar dan Biaya Langganannya
Google Resmi Ubah Strategi Update Android, Ini Informas
Disney Tuntut Google Dugaan Pencurian Hak Cipta AI, Ini
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Olahraga
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda
Entertainment
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Teach You a Lesson di Netflix: Drama Kontroversial yang Menampar Keras Dunia Pendidikan
Salman Borneo, Pengisi Suara Plankton dan Giant di Film
Hendry Munief  Dorong Pemerintah untuk Hadir Bantu Ind