Pajak Marketplace Ditunda, Ekonom: UMKM Bisa Bernapas Jaga Arus Kas

Kanama Amar
Sabtu, 8 Agustus 2026 12:15:04

KANALSUMATERA.com - JAKARTA — Penundaan penerapan pungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 melalui platform marketplace dinilai dapat memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menjaga kondisi keuangan mereka. Jumat (07/08/2026).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kebijakan penundaan tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku usaha digital untuk mempertahankan arus kas, terutama karena pungutan pajak yang sebelumnya telah dilakukan akan dikembalikan.

“Penundaan ini memberi ruang bagi pelaku usaha online, khususnya UMKM, untuk menjaga arus kas karena pajak yang sebelumnya sudah dipotong harus dikembalikan,” kata Yusuf.

Baca: Perpres Ojol Resmi Terbit, Potongan Aplikator Maksimal 8 Persen dan Jaminan Sosial Diatur

Menurut Yusuf, kondisi tersebut cukup penting di tengah penjualan yang belum sepenuhnya pulih. Dengan adanya ruang kas tambahan, pelaku UMKM memiliki pilihan untuk mempertahankan harga maupun promosi yang selama ini menjadi salah satu strategi menarik konsumen di platform digital.

Ia menilai dampak kebijakan tersebut tidak hanya dirasakan pelaku UMKM, tetapi juga dapat berkaitan dengan aktivitas ekonomi nasional. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.

Baca: Hunian Mewah Lapas Cibinong Dibongkar, Rieke Minta Bukti Fisik Diamankan

“Ketika kepercayaan konsumen dan penjualan ritel belum menunjukkan pemulihan yang kuat, tambahan beban administrasi dan pajak berisiko menekan aktivitas transaksi,” jelas dia.

Penundaan Bisa Picu Ketidakpastian

Meski memberikan manfaat bagi pelaku usaha dalam jangka pendek, Yusuf mengingatkan pemerintah perlu mempertimbangkan konsekuensi dari penundaan penerapan pajak marketplace.

Baca: Daratan Baru 30,3 Hektare Muncul Dekat Anak Krakatau, Ini Penjelasan Petugas

Menurutnya, platform marketplace dan pelaku usaha sebelumnya telah melakukan persiapan sistem untuk memenuhi ketentuan tersebut. Perubahan jadwal implementasi berpotensi menimbulkan ketidakpastian sekaligus biaya penyesuaian bagi pelaku usaha.

Selain itu, persoalan kesetaraan perlakuan perpajakan antara perdagangan daring dan luring juga dinilai masih perlu diperhatikan pemerintah.

Baca: Ombudsman RI Pantau Layanan Penumpang di Bandara yang Terdampak Debu Vulkanik Anak Krakatau

Yusuf menyebut penundaan kebijakan sebaiknya dimanfaatkan untuk menyempurnakan mekanisme perpajakan digital sehingga penerapannya tidak justru memberikan tekanan bagi usaha dengan kapasitas administrasi terbatas.

“Pemerintah perlu menggunakan waktu tersebut untuk menyiapkan skema perpajakan digital yang lebih bertahap dan sesuai dengan kapasitas UMKM. Besaran omzet, kemampuan administrasi, serta masa edukasi perlu menjadi pertimbangan agar penerapan pajak tidak menimbulkan kejutan bagi usaha mikro,” ujar dia.

Pemerintah Tunda Pajak Marketplace

Baca: HNW Tegaskan Label ‘No Pork No Lard’ Bukan Jaminan Produk Halal

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pemerintah memutuskan menunda implementasi pemungutan pajak melalui marketplace yang sebelumnya direncanakan mulai berlaku pada Agustus 2026.

Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat yang dinilai masih membutuhkan penguatan.

Baca: Usai Dapat Amnesti Prabowo, Gus Nur Gugat Negara Rp3,4 Miliar, Jokowi Terancam Digugat

“Terus satu lagi pajak online (marketplace), mungkin kita tunda, nggak Agustus (2026) ini mulai berjalan,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Rabu (05/08/2026).

Purbaya mengatakan pemerintah akan melihat perkembangan ekonomi dan daya beli masyarakat sebelum menentukan waktu penerapan kebijakan tersebut.

“Nanti kita tunda dulu. Saya bilang sampai keadaan, saya selalu bilang kalau daya belinya, ekonominya, sudah membaik,” ujar Purbaya.

Baca: Desa Adat Sade Lombok Dilalap Api, Ratusan Bangunan Rumah Sasak Tinggal Puing

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan kemudian menjelaskan bahwa keputusan mengenai penunjukan marketplace sebagai pemungut PPh Pasal 22 yang sebelumnya telah diterbitkan akan dibatalkan. Setelah itu, penunjukan kembali akan dilakukan sesuai dengan kebijakan pemerintah.

DJP juga memastikan PPh Pasal 22 yang sebelumnya telah dipungut marketplace dari Pedagang Dalam Negeri akan dikembalikan kepada pedagang terkait.

Baca: DPR Tetapkan Nuzran Joher sebagai Ketua Ombudsman RI Periode 2026-2031

“Penundaan ini tidak mengubah substansi kebijakan, melainkan hanya menunda waktu pemberlakuannya,” ujar Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) DJP Kemenkeu Inge Diana Rismawanti.

Skema Pajak Marketplace Sebelumnya

Sebelum ditunda, DJP Kementerian Keuangan menyatakan pemungutan PPh Pasal 22 melalui marketplace direncanakan efektif mulai 1 Agustus 2026.

Baca: 15 Srikandi Polisi Militer Kawal Kirab Bendera Pusaka dari Monas Menuju Istana

Direktur Jenderal Pajak Kemenkeu Bimo Wijayanto sebelumnya menyebut pemerintah memberikan masa transisi selama satu bulan kepada marketplace yang telah ditunjuk sebagai pemungut pajak. Masa tersebut diberikan agar perusahaan dapat melakukan penyesuaian sistem sebelum pungutan diterapkan kepada penjual.

Empat marketplace yang ditunjuk dalam skema tersebut adalah Tokopedia, Shopee, Lazada, dan Blibli.

Baca: Kemhan Siapkan Satu Yon TP dan Dua Batalyon Komcad di Setiap Kabupaten/Kota

Ketentuan pemungutan pajak itu mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 37 Tahun 2025 tentang penunjukan penyelenggara perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) sebagai pemungut PPh Pasal 22.

Dalam ketentuan tersebut, marketplace memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen dari peredaran bruto penjual. Dasar pengenaan tersebut merupakan nilai transaksi yang tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Mekanismenya dilakukan saat konsumen melakukan pembayaran melalui marketplace. Platform kemudian memungut PPh Pasal 22 atas penghasilan penjual, menerbitkan invoice, menyetorkan pungutan kepada negara, serta melaporkannya melalui Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPh Unifikasi.

Baca: Kemendagri dan BGN Perkuat Kolaborasi, Pemda Diminta Maksimalkan Dukungan Program MBG

Namun, pungutan tersebut tidak berlaku untuk seluruh penjual. Bimo sebelumnya menjelaskan bahwa kebijakan tersebut ditujukan kepada penjual dengan omzet atau peredaran bruto di atas Rp500 juta dalam satu tahun.

"Misal pedagang menjual barang senilai Rp2.000.000 melalui marketplace maka PPH Pasal 22 yang dipungut adalah 0,5% x 2 Rp2.000.000 = Rp10.000. Pajak sebesar Rp10.000 rupiah tersebut bukan pajak tambahan yang berdiri sendiri,” jelas Bimo. (SM)



Terkait
Kejagung Ungkap Dugaan Pemborosan Program MBG Capai Rp10,5 Triliun per Tahun
Kejagung Ungkap Dugaan Pemborosan Program MBG Capai Rp10,5 Triliun per Tahun
Tifatul Sembiring Dorong Pengembangan Ekonomi Utara, Si
Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Pimpin Sertijab Pejabat Str
Komisi IV Soroti Overkapasitas Kapal di Pelabuhan Muara
Lainnya
Pemerintah Singapura Lirik Riau dalam Pengembangan Kawasan Industri: Pemprov Sambut Baik
Pemerintah Singapura Lirik Riau dalam Pengembangan Kawasan Industri: Pemprov Sambut Baik
Samsuri Daris Reses di Tagaraja Kateman, Warga Minta Pe
Nurhayati dan Yeni Remaja Asal Tebingtinggi Hilang 4 Ha
DK PBB Tolak Keputusan AS Akui Klaim Israel atas Golan
Pendidikan
Bupati Ahmad Yuzar Dorong Wisudawan STIE Bangkinang Kuasai Teknologi dan Ciptakan Lapangan Kerja
Bupati Ahmad Yuzar Dorong Wisudawan STIE Bangkinang Kuasai Teknologi dan Ciptakan Lapangan Kerja
Gelar Karya PPG Universitas Pahlawan 2026 Tampilkan Ino
Politeknik Mulia Rokan Resmi Hadir, Karmila Sari Dorong
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Budaya
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
69 TAHUN RIAU: KETIKA KEMAJUAN HARUS BERNAFAS MELAYU
Bandar Jaya Beraksi: Harmoni Tari dan Gendang Satukan B
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Olahraga
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda
Daerah
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
PT Musim Mas Kerahkan Tim dan Peralatan Perkuat Penanganan Karhutla di Kerumutan Pelalawan
Bupati Kampar Pastikan Bara Karhutla di Rimbo Panjang B
Hadirkan Koh Dennis Lim, Jambore BKPRMI Riau 2026 Usung
Global
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Jepang Turunkan 3 Helikopter CH-47 dan 600 Personel Bantu Atasi Karhutla di Kalimantan
Trump Ganti Nama Danau Ontario Jadi Danau Amerika, PM K
Prabowo Terima Ramos-Horta di Istana, 20 Peraih Nobel I
Politik
Syahrul Aidi Tekankan Peran Strategis Perempuan dalam Penutupan LATANSA Kampar
Syahrul Aidi Tekankan Peran Strategis Perempuan dalam Penutupan LATANSA Kampar
NasDem Desak Polri Bongkar Tuntas Dugaan Penyadapan Pra
Syahrul Aidi Maazat Gelar Sarasehan Kebangsaan MPR RI 2